Radio Komunitas, Radio Darurat Bencana

IMG20160423163203

Mario Antonius Birowo dalam sebuah diskusi Jagongan Media Rakyat 2016, Jogja National Museum (23/4).

Yogyakarta. – Radio komunitas dalam kondisi darurat memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Salah satu manfaat tersebut adalah memberikan informasi di berbagai titik daerah rawan bencana seperti yang terjadi di Sinabung. Hal ini diungkapkan oleh Iman Abda, pemateri pada diskusi bertajuk penyiaran kebencanaan untuk Indonesia tangguh dalam hajatan Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 di Jogja National Museum, (23/04).

Kegunaan radio darurat kemarin (dalam tanggap darurat di Sinabung – red) tak hanya memberi informasi, tapi juga mendatangkan bantuan dari pemerintah. Pada saat itu bantuan belum datang kami siarkan lewat radio, tidak berselang lama bantuan itu datang,” ungkap Iman dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) ini.

Senada dengan Iman, Sinam MS selaku ketua JRKI mengungkapkan, radio darurat menjadikan meluasnya jaringan. “Seperti bencana tanah longsor Si Jemblung, Banjarnegara, kami menyiarkannya, sehingga radio darurat dapat menjalin kerjasama dengan lembaga lain,” jelasnya.

Selain melakukan penyiaran, radio komunitas juga melakukan pelatihan jurnalistik dan pelatihan penyiaran. “Kami melakukan pelatihan di gedung SMP HOS Cokroaminoto (Banjarnegara-red),” papar Sinam.

Hal lain yang telah dilakukan radio komunitas adalah membangun keyakinan dalam masyarakat untuk berhati-hati jika hujan melebihi 6 jam, besar kemungkinan akan terjadi longsor. Radio komunitas juga memberikan hiburan. Dalam hal ini, ada salah satu warga setempat yang kehilangan anggota keluarganya akibat longsor, ia bergabung menjadi penyiar radio. “Dalam siarannya, Ia menghibur pada korban bencana untuk tidak bersedih berlarut,” tambah Sinam.

Dilihat dari pengoperasiannya ketika terjadinya bencana, radio komunitas tidak melegalkan keberadaan radio darurat. Sebab kami tidak ingin muncul berbagai aturan setelah dilegalkan. “Tidak kami legalkan. Kami mengutamakan manfaat daripada pelegalan,” Sinam menambahkan.

Manfaat yang diperoleh dengan adanya radio komunitas ini ketika bencana tsunami Aceh yang menghancurkan seluruh infrastruktur. Saat itu, informasi mengenai tsunami di Aceh tak diketahui oleh orang Indonesia, tapi dari Thailand.

Yang ingin saya gambarkan adalah kepanikan. Panik terjadi karena minimnya informasi. Kalau seandainya Ia tak memperoleh informasi, besar kemungkinan memperbanyak jumlah korban,” tutur Mario Antonius Birowo, peneliti radio komunitas dari Universitas Atmajaya Yogyakarta. Ia memberi kesimpulan dengan banyak informasi yang diperoleh akan memperkecil resiko bencana. Pun demikian, semakin mudah dalam memperoleh alat informasi seperti radio, semakin kecil resikonya. “Oleh karena itu, komunitas ini ketika bencana datang, juga memberikan radio kecil dengan baterai sekali pakai,” ungkapnya.

Penulis : Anis Nur Nadhiroh

Editor : Buono

Facebooktwittergoogle_pluspinterest