John Bamba, Penggerak Akar Rumput Kalimantan

“CU harus peduli terhadap permasalahan sosial. CU tidak hanya fokus pada isu-isu ekonomi. CU harus concern terhadap masalah sosial di sekitar masyarakat.”

Bamba (copy)

Demikian sepenggal kutipan John Bamba, penggerak Credit Union (CU) Gerakan Gemalaq Kemisiq suatu siang di Jogja National Museum, (23/4). Pria yang mudah dikenali dengan gaya khas topi dan batik Kalimantannya ini menceritakan gerakan dan aktivitasnya seputar CU yang dibangunnya.

Selain dikenal sebagai dayakolog (budayawan Dayak), John Bamba juga seorang aktivis asal Ketapang, Kalimantan Barat. CU Gerakan merupakan terminologi yang membedakan dengan CU-CU lembaga keuangan murni lainnya. Lembaga tersebut tetap bekerja seperti bank dan berbadan hukum koperasi. Lantas apa yang membedakannya dengan lembaga keuangan lainnya?

Gerakan Akar Rumput untuk Perubahan

CU Gerakan memiliki idealisme dan ideologi yang terpatri pada tiap anggotanya. Lembaga tersebut ikut terlibat dan terjun langsung pada permasalahan sosial dalam masyarakat, seperti masalah sosial, lingkungan, dan ketidakadilan. CU Gemalaq Kemisiq (GK) merupakan satu dari empat CU Gerakan di Indonesia, yang sementara ini semuanya masih berada di Kalimantan. CU tersebut mencoba untuk berkontribusi dan menunjukkan keberpihakannya pada masyarakat, bukan menjadi komunitas ekslusif.

Ide dan gagasan awal munculnya CU Gerakan berasal dari cerminan persoalan masyarakat daerah Kalimantan. Lembaga-lembaga keuangan saat ini tidak memiliki kepekaan sosial, hanya beorientasi pada keuangan. Kerja sama berubah menjadi persaingan. Manusia berubah menjadi ‘uang’. Kualitas berubah menjadi kuantitas. John Bamba bersama rekan aktivis lainnya berusaha untuk mengubah keadaan agar lembaga keuangan memiliki kepekaan dan keberpihakaan pada masyarakat.

Proses yang dilalui John Bamba cukup panjang, meskipun ia baru memperkenalkan terminologi CU Gerakan pada 2011. Proses panjang ini diawali dengan berkumpulnya beragam organisasi dan lembaga di satu wadah yang sama. Beberapa diantaranya adalah Institut Dayakologi, percetakan, dan Lembaga Bela Banua Talino. Di bawah naungan Yayasan Pancur Kasih, tiap organisasi kemudian menjalankan peran sesuai bidangnya masing-masing. Setelah itu, dibangun Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK) yang sekarang dipimpin oleh John Bamba. Anggotanya terdiri atas 10 organisasi dan 5 CU Gerakan.

Nyatanya, praktik gerakan akar rumput telah ada sejak tahun 1990an. Gerakan tersebut ternyata membulatkan tekad mereka untuk mengembangkan dalam beberapa sektor kehidupan. Salah satunya dengan mendirikan CU GK dan difokuskan pada pengelolaan keuangan pada 1999. CU tersebut merupakan alat gerakan dan difasilitasi oleh Institut Dayakologi. Gemalaq Kemisiq merupakan nama tokoh yang sukses menghapus perbudakan pada zaman kolonial. Semangatnya diharapkan mampu menghapus masyarakat dari ‘lingkaran setan’ kemelaratan.

CU Gerakan dapat disebut juga CU Plus. “CU Plus harus profesional untuk mengelola keuangan anggota. Tidak boleh kompromistis. Sebab uang bukan tujuan. Tujuan kita adalah membawa perubahan. Menciptakan manusia yang berkualitas, bukan budak uang,” papar John Bamba kala mengisi Rembug Prakarsa dalam puncak acara Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016.

CU Gemalaq Kemisiq kini makin melejit. Dampaknya dapat dirasakan oleh banyak penduduk di Kalimantan. Dengan total anggota lebih dari 15.000 orang dan aset lebih dari 200 miliar rupiah, mampu memberikan bunga simpanan sebesar 15% tiap tahunnya. Jumlah yang besar itu merupakan hasil kerja keras masyarakat Kalimantan selama kurang lebih 17 tahun, sejak didirikannya Gemalaq Kemisiq.

“Lembaga kami, CU Gerakan tidak akan memberi pinjaman anggota untuk kegiatan yang tidak berdampak positif bagi masyarakat. Seperti berjudi dan membeli kebun sawit,” jelas pria asal Kalimantan ini sambil tersenyum.

Berbicara mengenai CU Gerakan, John Bamba juga menekankan pada keberanian para pengurus dan aktivisnya. Dengan tegas, John mengemukakan tidak bekerja sama dengan pemerintah untuk saat ini. Lembaga yang dipimpinnya murni berdiri sendiri. Sebab, pernah terjadi gesekan terhadap salah satu CU Gemalaq Kemisiq. Itulah salah satu tantangan bagi orang-orang yang mau bergabung membawa perubahan bersama CU Gerakan. Banyak persoalan dalam masyarakat yang sebenarnya perlu diselesaikan.

CU Gerakan dapat memfasilitasi CU-CU lain yang mau bergabung dan memiliki semangat, untuk ikut peduli dan mau terlibat dalam persoalan masyarakat. Tidak ada syarat tertentu, sehingga terbuka bagi siapa saja yang ingin melakukan gerakan besar lainnya. Karya dan kerja keras John Bamba terangkum dalam sebuah buku bertajuk Credit Union Gerakan Konsepsi Filosofi Petani (2015).

Tak disangka, ternyata gerakan akar rumput pembawa perubahan itu sampai juga di telinga Dandhy Dwi Laksono. Ia merupakan jurnalis video dan pemimpin Watchdoc. Watchdoc merupakan rumah produksi audio visual sejak 2009. Karya-karya yang dihasilkannya sebagian besar terinspirasi atas keprihatinan dan persoalan dalam masyarakat. Dandhy Laksono dan timnya ikut mengabadikan segala macam aktivitas dan semangat CU Gerakan dalam sebuah film dengan judul ‘Anti-Bank’.

Gerakan perintis seperti CU Gerakan memang dibutuhkan masyarakat saat ini. Berbagai persoalan masyarakat harus diselesaikan dengan bantuan dari pihak lain. Mereka yang peduli dan memiliki kepekaan tinggi mampu menjadi agen-agen perubahan demi membawa Indonesia yang lebih baik. Setidaknya masih ada secercah harapan bagi kemajuan negeri Ibu Pertiwi. Jangan putus semangat demi memperjuangkan kepentingan bersama, terutama keberpihakan pada masyarakat kecil.

Penulis: Yosepha Debrina

Editor: Rosa Vania Setowati

Facebooktwittergoogle_pluspinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *