Hatta dan Pariwisata Borobudur

“Pariwisata tak bisa hanya diukur dengan angka. Tak juga dengan tingkat kunjungan. Ada yang lebih penting ketimbang dua ukuran itu.” 

M.Hatta menyampaikan tentang pariwisata bertanggung jawab
M.Hatta saat menjadi salah satu pembicara di Rembug Prakarsa JMR 2016, (23/4).

Adalah Muhammad Hatta (35), pegiat radio komunitas MGM FM Borobudur  yang mengungkapkan hal tersebut. Pria kelahiran Borobudur, Magelang ini menceritakan perkembangan desanya di sekitaran Candi Borobudur yang dulunya hanya desa kecil yang tak begitu dikenal hingga kini menjadi destinasi wisata dunia.

“Saat itu, tahun 1984, saya dan keluarga keluarga saya pindah dari tanah kami (dusun-red)  karena terdampak proyek pemugaran dan perawatan kompleks Candi Borobudur tahap kedua,” urainya mengawali ceritanya usai menjadi pembicara dalam Rembug Prakarsa Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 di Jogja National Museum, (23/4).

Situs bersejarah itu memang butuh buffer zone atau kawasan penyangga sehingga segala aktivitas di luar . Pada tahap pertama area 200 meter dari titik terluar candi mesti dikosongkan demi keperluan buffer zone. Warga terdampak secara sukarela meninggalkan tanah karena merasa tanah itu penting untuk pelestarian candi peninggalan nenek moyangnya. Warga yang menolak dilempari mayat-mayat hasil penembakan misterius rezim Suharto supaya cepat pindah.

Seperti halnya Hatta, warga desa lain yang merelakan tanah untuk buffer zone dan pindah menjauhi zona itu harus hijrah sebanyak dua kali. Zona dikosongkan yang rencananya hanya 200 meter dari titik terluar ternyata meluas menjadi 85 hektar di akhir proyek pemugaran. “Ada kompensasi, namun jumlahnya di bawah standar,” ujar Hatta yang kini tinggal sejauh dua kilometer dari lokasi candi.

Kini, tanah yang dulunya pernah jadi tempat tinggalnya itu berubah fungsi menjadi taman yang dikelola oleh PT. Taman Wisata Candi Borobudur. Tak tanggung-tanggung, luasnya seratus kali lapangan sepak bola! Tak hanya digunakan mempercantik kompleks candi, taman di sekeliling objek Borobudur juga disewakan untuk berbagai keperluan semisal outbond, dan lain-lain.

Pada tahap Candi Borobudur ditetapkan menjadi situs nasional itu, pada saat itulah kehidupan mereka berubah. Tiba-tiba, daerah sekitar desa yang dulu sepi dengan orang-orang di sekitar desa saja yang lalu lalang, kini didatangi jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia tiap tahunnya.

Sayangnya, banyaknya kunjungan wisatawan ternyata tidak sepadan dengan pendapatan daerah. Desa-desa di sekitar candi yang termasuk World Heritage Site itu tak banyak menikmati bonus sejarah. Hatta mengungkapkan bahwa Kecamatan Borobudur menduduki peringkat tiga terbawah dari total 21 kecamatan di Kabupaten Magelang dari segi pendapatan daerah. Ironis!

Hingga saat ini Borobudur masih menjadi salah satu objek wisata dengan kunjungan terbesar di Indonesia, satu tingkat di bawah Bali. “Jumlah pengunjung tiap harinya bisa mencapai 40.000 orang jika sedang high season (musim liburan-red),” kata Hatta.

Pariwisata Bertanggung Jawab

Hatta berkawan dengan orang-orang yang memiliki keresahan sejenis di bidang pariwisata. Mereka berjejaring dalam sebuah wadah yang cair bernama Jaringan Kerja Kepariwisataan (JKK). Anggotanya terdiri dari para tour guide dan inisiator desa-desa wisata di sekitar candi yang berjumlah sekitar 70 orang.

JKK menawarkan wisata yang berbeda dari sekedar mengunjungi Candi Borobudur lewat pintu utama kompleks candi.  Mereka menawarkan melihat Candi Borobudur dari sisi lain, dari sawah, perkampungan warga serta bersentuhan dengan keseharian masyarakat dan budayanya.

bincang bersama M. Hatta tentang pariwisata yang bertanggung jawab

Saat ini Hatta dan kawan-kawan jaringan pariwisata memilih bergerak mandiri, meski bantuan dari pemerintah bisa diusahakan. Ia mengungkapkan bahwa bantuan semacam itu menetapkan keberhasilan program dengan target angka. Misalnya bisa berupa target kunjungan sekian ribu orang per tahun.

Namun, ia berpendapat ketika membicarakan soal pariwisata, segala sesuatu tak hanya diukur dari jumlah dan angka, “Ada multi dampak. Sering kali dampak berkelanjutan lupa diukur,” ujarnya. Ketika menjumpai keramah-tamahan penduduk di sekitar Borobudur, kemungkinan wisatawan datang lagi atau bahkan mengajak teman-temannya untuk berkunjung dapat meningkat. Antara wisatawan dengan tour guide (pemandu tur-red) terjalin relasi yang berkesinambungan.

Ketika wisatawan datang ke daerahnya, pendapatan dari pariwisata itu ia anggap sebagai bonus. “Yang jadi pedagang tetap jadi pedagang, petani jadi petani saja,” lanjut Hatta.

Saat ini, ada sekitar delapan hingga sepuluh desa wisata di lingkar Borobudur, Magelang. Tiap desa menawarkan keunikan tersendiri. Ada desa penghasil gerabah, buah-buahan serta desa yang memiliki objek wisata alam.

Desa yang menarik dikunjungi wisatawan di antaranya Desa Tanjungsari dan Karanganyar. Setiap harinya masyarakat Desa Tanjungsari mampu mengolah 3,5 ton kedelai menjadi tahu. Tiap keluarga rata-rata menghasilkan 30-50 kilo tahu. Wisatawan yang mampir di desa ini bisa mencicipi nikmatnya membuat tahu, menggoreng tahu, hingga mencicipinya. “Ini experience (pengalaman-red) yang sederhana tapi mengena,” ujar Hatta.

Lain halnya dengan Desa Karanganyar yang memiliki masyarakat penghasil gerabah. Gerabah di desa ini dihasilkan dengan peralatan yang masih sederhana. “Datanglah ke Karanganyar jika ingin melihat Kasongan 25 tahun lalu,” ajaknya.

Desa di lingkar Borobudur juga merupakan penghasil ketela. Banyak olahan dari ketela yang dihasilkan masyarakat sekitar. Ada olahan ketela yang dimasukkan dalam nira, yang kemudian diberi nama Bajingan. Rasanya manis karena ketela dimasukkan dalam rebusan air gula. Olahan lain berupa keripik, ceriping, alen-alen, gethuk dan masih banyak lagi variasinya.

Sebagai modal keberlanjutan wisata bertanggung jawab itu Hatta mengungkapkan kebersamaan jadi hal yang amat penting. Saat ini makin banyak investor yang membeli tanah-tanah warga, terutama tanah yang memiliki pemandangan bagus ke arah Candi Borobudur. Tren wisata juga berubah dari waktu ke waktu. Ia memiliki keprihatinan wisata semacam ini bisa hilang jika tidak dijaga keberlanjutannya. “Kuncinya tetap berteman sehingga tidak merasa sendiri. Jika ada teman bisa curhat dan mencari solusi. Sudah kreatif dan inovatif dasarnya, tapi kalau sendiri nggak bisa ngapa-ngapain,” pungkasnya.

Penulis: Rosa Vania Setowati

Editor: Apriliana Susanti

Facebooktwittergoogle_pluspinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *