Mereka yang Menggerakkan Perubahan

“Empat orang penganyam inisiatif hadir dalam gelaran dua tahunan Jagongan Media Rakyat. Masing-masing membawa segudang cerita dan harapan akan perubahan.”

Jhon Bamba, nomer 1 dari kiri
Dari kiri ke kanan: John Bamba, Dandhy Laksono, dan Mila Rosinta.

Kemandirian berasal dari usaha sekelompok orang dengan  keresahan serupa. Laiknya benang, inisiatif menuju kemandirian dapat dianyam menjadi satu. Kadang inisiatif bisa lepas, pun bisa dirangkai lagi jika mulai kendor.

Agar berbagai komunitas dan individu dapat saling berbagi kemudian bergerak bersama, maka dipertemukanlah elemen-elemen tersebut dalam wadah  Jagongan Media Rakyat (JMR). Combine Resource Institution, pengagas acara dua tahunan ini yakin butuh usaha yang panjang dan mendalam untuk menuju perubahan. Maka, semangat berkumpul perlu digalakkan.

Perubahan tentu sulit dicapai jika hanya diusahakan secara sporadis, tanpa menggandeng inisiatif dan jaringan. Riset tak hanya dilakukan sehari dua hari. Usaha pun tidak instan. Kreativitas perlu dikembangkan luas tanpa batas dan sekat. Untuk memulai rembug yang menghasilkan prakarsa, Dandhy Dwi Laksono, John Bamba, M. Hatta serta Mila Rosinta hadir di Pendopo Ajiyasa, Jogja National Museum, Sabtu (23/4) dalam JMR 2016.

Berdaya Bersama CU Gemalaq Kemisiq
Tak banyak masyarakat yang mengetahui perihal keberadaan sebuah credit union gerakan (CUG) di Kalimantan Barat yang memiliki aset mencapai 200 miliar rupiah. Dikembangkan oleh John Bamba beserta komunitasnya Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK), CUG bernama Gemalaq Kemisiq ini bergerak sealiran dengan koperasi, meski dalam praktiknya tak sepenuhnya sama.

Sementara lembaga keuangan lain seperti bank sibuk menghimpun dana tanpa keberpihakan yang jelas pada rakyat miskin dan menyentralisasikan hasil hanya pada segelintir CEO (chief executive officer) CUG hadir lebih inklusif dan berpihak pada rakyat. Pemiliknya tak lain seluruh peserta tanpa terkecuali.

Peserta CUG ialah mereka yang telah mendaftar dan membayar sejumlah Rp 450.000,00 sebagai simpanan pokok. Keuntungan didistribusikan pada lebih banyak orang. CUG berorientasi pada kemandirian dan pemberdayaan masyarakat.  “Setiap anggota CUG aktif dapat memperoleh bunga hingga sebesar 15%,” tambah John, (23/4). Dengan catatan anggota tersebut terlibat aktif membantu gerakan.

Kunci kesinambungan CUGK menurut John berupa profesionalitas, berorientasi meningkatkan nilai kehidupan serta manusia yang berkualitas, meningkatkan harkat dan martabat manusia, serta tak menjadi budak uang. Keempatnya hal yang haram ditawar. Konsisten menjalankan itu semua membuat CUG Gemalaq Kemisiq mampu bertahan hingga menghimpun 15.000 orang sebagai anggota.

Menambah daya juang peserta ialah tujuan utama didirikannya CUG. Sejak 2011  arah gerak CUG diredefinisi menjadi berbasis filosofi petani. Nafas itu masih berhembus hingga kini. Di tengah-tengah sistem keuangan yang makin kapitalistik CUG menawarkan sistem yang menjunjung tinggi kebersamaan namun tak mengendurkan profesionalitas.

Semangat CUG ini ternyata bernafaskan perjuangan si empunya pemilik nama. Gemalaq Kemisik tak lain adalah nama pejuang asal Kalimantan yang pada zaman kolonial menentang perbudakan. Lagi-lagi kemandirian dan ketidakterikatan menjadi tujuan yang membebaskan.

Dandhy Melawan Arus Utama
Setahun menjelajah bumi Indonesia dalam perjalanan bernama Ekspedisi Indonesia Biru, Dandhy Dwi Laksono berbagi pengalamannya di Jagongan Media Rakyat 2016. Banyak hal ia ungkap termasuk konflik agraria termasuk perebutan sumber daya alam serta ruang hidup, ekonomi, HAM, dan hak-hak komunitas di daerah yang dilaluinya.

Ekspedisi Indonesia Biru mengambil nama dari konsep Ekonomi Biru, sebagai ganti Ekonomi Hijau. Konsep yang menolak globalisasi, sentralisme dan penyeragaman ini dikenalkan oleh Gunter Pauli, peneliti asal Ameria Serikat, tahun 1994. Selanjutnya, konsep ini mencari keragaman sumber daya lokal, meretas ketergantungan dan mengubah aturan main. Dandhy mendokumentasikan perjalanannya untuk menghadirkan pengetahuan baru yang tak ditemui di sekolah terlebih media mainstream.

Bersama rekannya, Suparta, Dandhy melakukan perjalanan minim fasilitas tanpa sponsor swasta, pemeritah apalagi partai politik. Semua dana murni dari hasil tabungan Dandhy selama lima tahun yang habis hanya dalam waktu setahun. Motor bebek 125cc keluaran tahun 2003 dan 2005 pun setia menemani perjalanan mereka.

Kasepuhan Ciptagelar di Jawa Barat, Suku Baduy di Banten, Masyarakat Desa Adat Tangenan di Bali, dan Kerajaan Boti di Sumba adalah beberapa komunitas berdaya yang ia temui dalam ekspedisinya. Mereka memiliki persamaan yakni masih punya sistem nilai sehingga tidak mudah menerima akulturasi mentah-mentah. Ia bercerita bahwa masyarakat punya solusi sendiri atas permasalahan yang mereka hadapi.

Di Kasepuhan Ciptagelar, penduduk memiliki kesadaran akan kesinambungan dan ketahanan pangan. Untuk memperbaiki unsur hara, panen hanya dilakukan sekali setahun. Penduduk tidak boleh menjual padi. Mereka percaya bahwa menjual beras sama artinya dengan menjual kehidupan. “Jauh berbeda dengan peradaban terbaru, yang kalau perlu panen setahun tiga kali,” ujar Dandhy.

Sepanjang perjalanannya, ada 33 tema yang Dandhy dan kawan seperjalanannya filmkan. Jumlah total film yang mereka hasilkan 26 episode.

Pariwisata Bertanggung Jawab
Di sekitar objek pariwisata Candi Borobudur terdapat 70an orang yang tergabung dalam Jaringan Kerja Kepariwisataan (JKK). Mereka menawarkan sebuah wisata baru bagi pelancong, yaitu melihat Candi Borobudur dari desa dan sawah-sawah di sekitar kompleks. Tak hanya itu, wisatawan juga berkesempatan untuk melihat keseharian masyarakat di seputar candi yang tercatat sebagai World Heritage Site.

Bentuk pariwisata semacam itu ternyata masuk dalam kriteria pariwisata bertanggung jawab menurut UNWTO (United Nation World Tourism Organization). Tidak meninggalkan aspek sosial budaya, lingkungan serta ekonomi menjadi hal yang penting dari pariwisata tersebut.

M.Hatta menyampaikan tentang pariwisata bertanggung jawab
M.Hatta menyampaikan tentang pariwisata bertanggung jawab

Salah seorang inisiator gerakan tersebut, Muhammad Hatta (35) bercerita bahwa wisatawan yang datang di desanya bisa melihat masyarakat menjalani kegiatannya sehari-hari. Mulai dari membuat kerajinan seperti gerabah, mengolah kuliner seperti tahu dan olahan singkong, serta menjelajah sawah, sungai dan alam sekitarnya. Dengan begitu, masyarakat sekitar berkesempatan untuk memperoleh penghasilan tambahan, sumber daya alam tetap terjaga, serta kebudayaan asli masyarakat bisa tersampaikan pada para pelancong.

Hatta mengungkapkan modal utama keberlanjutan gerakan pariwisata anti-mainstream itu adalah kebersamaan. Sekitar delapan hingga sepuluh desa di lingkar Borobudur sering berdialog dalam sebuah wadah yang cair. Mereka berbagi pengalaman dan mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi terkait kepariwisataan.

Meski Hatta dan kawan-kawan jaringannya bisa mendapat bantuan dari pemerintah, mereka memilih bergerak sendiri. Alasan yang ia kemukakan adalah bantuan semacam itu menetapkan keberhasilan program dengan target angka, misalnya kunjungan wisatawan. Menurutnya ada yang tak kalah penting dari itu. “Ada multi dampak. Seringkali dampak berkelanjutan lupa diukur,” ujarnya.

Seni Pendorong Aksi
Menginisasi gerakan sosial bisa dilakukan lewat seni. Ini yang dibuktikan oleh Mila Rosinta Totoatmojo (26). Ia mengadvokasi isu-isu perempuan, termasuk rendahnya kesadaran perempuan untuk melahirkan dengan bantuan bidan melalui tari-tari garapannya. Selain sebagai penari, ia juga seorang koreografer.

Meski telah rutin menggelar berbagai pentas untuk melestarikan budaya, Mila mengaku hingga saat ini Dana Keistimewaan tak mengalir ke sanggar tarinya. “Kami seniman-seniman muda tidak pernah mendapat dana itu sepeserpun,” ujarnya.

Berbeda dengan daerah administratif lain, Yogyakarta memiliki keistimewaan yang tertuang dalam peraturan Undang-Undang No.13 tahun 2012 . Peraturan tersebut dikenal sebagai UU Keistimewaan. Keistimewaan yang terkandung di dalamnya tak hanya berupa status dan nama yang disandang. Tercakup pula perihal anggaran yang dikucurkan pemerintah pusat. Idealnya dana istimewa digunakan untuk membiayai operasional pelestarian kebudayaan.

Hingga saat ini Mila tetap mengusahakan pentas garapannya dengan dana sukarela dan funding (donor) dari berbagai kalangan. Ia menyasar ketertarikan penari-penari muda untuk menyukai dan melestarikan budaya tradisional Indonesia. Cara yang ditempuhnya dengan membuat sanggar tari, mengadakan pertunjukan, festival, serta membuat koreografi menarik, yaitu mencampurkan tari kekinian dengan tradisional tanpa melupakan esensinya.

Banyak jalan menjadi bagian gerakan perubahan. Baik Jhon Bamba, Dandy Laksono, M. Hatta, maupun Mila Rosinta telah membuat perubahan-perubahan kecil di sekitarnya. Namun demikian, Indonesia masih membutuhkan penganyam inisiatif lain agar perubahan semakin berdampak luas.

Facebooktwittergoogle_pluspinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *