1diskusi

Rangkaian diskusi dan lokakarya

Tahun ini, ada total 38 kelas diskusi dan lokakarya sepanjang pelaksanaan Jagongan Media Rakyat 2016. Itu belum termasuk jadwal pemutaran film yang disertai dengan diskusi. Jumlah tersebut menunjukkan antusiasme berbagai lembaga dan komunitas untuk bisa saling berbagi pengalaman dan pengetahuan di ajang JMR.

Rangkaian kelas diskusi dan lokakarya itu dibagi dalam tiga kluster utama, yakni inovasi, advokasi dan literasi. Sejumlah tema yang akan didiskusikan antara lain sebagai berikut :

1. Perkotaan

“Penataan Kawasan Permukiman Padat Bantaran Sungai Berbasis Masyarakat Skala Kota: Partisipasi Warga dalam Penataan”

Warga adalah pelaku utama perubahan di lingkungan hidup mereka. Partisipasi warga secara mandiri dalam penataan permukiman padat menjadi semangat untuk diimplementasikan dengan program pemerintah dalam skala kota. Beberapa keberhasilan advokasi masyarakat dalam program pemerintah menjadi salah satu bahasan dalam diskusi ini dengan menghadirkan PU Sleman dan Solo yang telah bekerja sama merencanakan dan merancang permukiman warga secara partisipatif.

Penyelenggara : Arkom Jogja

2. Kebencanaan

“Integrasi Pengurangan Risiko Bencana dalam UU Desa”

Undang-Undang Desa no 6 Tahun 2014 merupakan kebijakan negara yang akan memberikan peluang bagi masyarakat di tingkat desa untuk melakukan pembangunan desa tanpa harus bergantung pada hasil musrenbang di tingkat kabupaten. Akan terdapat peluang besar bagi masyarakat desa untuk menyasar kebutuhan pembangunan di tingkat desa termasuk upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) serta menyasar kebutuhan kelompok rentan yang selama ini belum menjadi prioritas dalam pembangunan, yaitu penyandang disabilitas, lansia, kelompok miskin dan kelompok perempuan. Penyelenggaraan pembangunan desa dilakukan dengan mengedepankan kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotongroyongan guna mewujudkan pengarusutamaan perdamaian dan keadilan sosial.

Dialog interaktif antara pelaku aktif pembangunan akan diselenggarakan dalam kegiatan Nasional 2 tahunan Jagongan Media Rakyat (JMR) di Jogja Nasional Museum. Dialog akan membahas praktek-praktek yang sudah dilakukan oleh masyarakat di tingkat lokal dalam mengelola dana desa untuk menyasar upaya pengurangan risiko bencana serta kebutuhan-kebutuhan kelompok rentan.

Selain perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan, juga penting untuk melakukan monitoring dan evaluasi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat sipil. Diperlukan mekanisme yang jelas serta kebijakan yang dapat mengatur monitoring dan evaluasi tersebut. Oleh karena itu usulan masyarakat sipil mengenai monitoring dan evaluasi akan dijaring dalam kampanye yang juga diselenggarakan di JMR.

Penyelenggara : Forum PRB DIY
Narasumber : IDEA; Difable Person Organisation (DPO) Kecamatan Lendah, Kulonprogo; Aparat Desa Srigading, Bantul; dan Organisasi Lansia Gemampang Sirahan (Magelang)

3. Pariwisata Berkelanjutan

“Membangun Desa dengan Pariwisata Berkelanjutan”

Otonomi desa menuntut pemerintah lebih kreatif dalam mengelola kawasannya. Desa juga dituntut untuk mendayakan segala sumberdaya yang dimiliki untuk mendorong kemandirian desa. Pariwisata berkelanjutan adalah salah satu pilihannya. Pariwisata berkelanjutan memiliki tujuan agar tradisi, budaya dan lingkungan kawasan desa tetap lestari, meski bersinggungan dengan tradisi global. Namun kondisi desa yang masih gamang memerlukan peran sentral dalam memulai sebuah konsep berkelanjutan di desa. Pada JMR 2016 ini akan hadir para perintis dan fighter desa yang sering dianggap gila dan kurang kerjaan namun dengan kegigihannya mampu merubah kegilaan menjadi prestasi, sehingga mampu menggerakkan desa menuju proses kemandirian berkelanjutan.

Penyelenggara : Pemerintah Desa Dlingo Bantul
Narasumber : Desa Nglanggeran, Desa Borobudur, dan Puspar UGM

4. Teknologi informasi

“TIK yang Berdaya dan Mandiri dengan Semangat Berbagi dan Berkolaborasi Menciptakan Karya Solutif dan Tepat Guna”

Tidak dimungkiri era digitalisasi telah merubah cara pandang sampai kebiasaan masyarakat. Dalam lingkup yang lebih sempit, digitalisasi yang didalamnya termasuk teknologi telah membawa perubahan didunia ini. Perubahan yang terjadi di segala bidang, dengan rentang waktu yang relatif cepat hingga bisa dikatakan secepat perkembangan teknologi itu sendiri. Perkembangan teknologi itu sendiri bukan tanpa kegagalan, terbukti banyak riset yang telah memakan waktu lama serta biaya yang tidak sedikit menghasilkan terobosan atau inovasi teknologi yang gagal guna. Meski hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, namun dari kegagalan-kegagalan memunculkan inovasi-inovasi teknologi baru berikut juga metode pengembangannya.

Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki sumber daya manusia yang berpotensi dibidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, ditunjang dengan kebijakan yang positif dan ekosistem yang bersaing sehat, bukan hal yang mustahil potensi-potensi ini dapat berkembang menciptakan inovasi-inovasi teknologi baru kedepannya. Dengan karakter masyarakat Indonesia yang saling berbagi dan berkolaborasi satu sama lain, merupakan modal penting untuk bangkit menciptakan inovasi dan karya solutif bagi masyarakat dan bangsa serta tepat guna dalam dukungan solusi menjawab permasalahan yang ada, secara mandiri dan berdaya berkelanjutan.

Penyelenggara : AirPutih
Narasumber : Agung Riyadi (AirPutih)

5. Kesejahteraan Desa

“Daulat Data Masyarakat untuk Percepatan Penanggulangan Kemiskinan”

Carut marut pengelolaan data kemiskinan Nasional, yang seringkali tidak tepat sasaran seringkali membuat konflik horizontal di tingkat bawah. Banyak warga miskin yang menurut masyarakat belum terdata di nasional. Disisi lain ruang partisipasi masyarakat untuk melakukan perbaikan pendataan atas data nasional belum banyak dilakukan di tingkat desa.Dibutuhkan regulasi daerah yang mengatur kewenangan untuk pengembangan data local di tingkat Kabupaten/kota dan propinsi untuk mengurangi gap antara data nasional dan realitas daerah.

Penyelenggara : SAPA Korda Jateng
Narasumber : Kepala Desa Nglegi, Gunungkidul; SAPA; dan Staf Ahli Kemiskinan Gubernur Jateng (*dalam konfirmasi).

6. Lingkungan

“Menjaga Lingkungan dari Meja Makan”

Budaya konsumeris menghilangkan kuasa manusia atas aktivitas produksi pangan. Masyarakat perkotaan memiliki kemampuan terbatas untuk menghasilkan pangan, bahkan kehilangan ketrampilan mengolah pangan. Ketika masyarakat abai untuk tahu asal usulnya, pilihan menu pangan sehari-hari berpotensi menyumbang kerusakan lingkungan, dengan konsekuensi yang kurang diperhatikan bahkan tidak terbayangkan.

Konsep farm to table memastikan menu di meja makan dapat ditelusur asal usulnya. Keterlibatan anak-anak muda perkotaan dalam produksi pangan berkelanjutan, meski dengan segala keterbatasan, merupakan inisiatif yang membawa harapan terwujudnya kedaulatan pangan. Jejaring pangan lokal merupakan sistem pendukung pangan perkotaan untuk mengurangi dampak ekologis dari aktivitas konsumsi pangan sehari-hari. Tindakan penyelamatan lingkungan—mengatasi perubahan iklim—bisa dilakukan dari meja makan.

Penyelenggara : Komunitas JIPANG
Narasumber :Letusee, Jogja Berkebun, dan Walhi Jogja (*dalam konfirmasi)

7. Heritage

“Pengenalan Pusaka untuk Pelestarian Masa Depan”

Komunitas pelestari pusaka di Indonesia tak terhitung jumlahnya. Masing-masing melakukan pelestarian lewat caranya masing-masing. Ada beragam cara mudah yang ramai dikerjakan komunitas-komunitas ini. Ada yang mendokumentasikan lewat foto dan tulisan, ada yang merawat bangunan Cagar Budaya dengan membersihkan secara berkala, ada yang rutin melakukan jelajah pusaka untuk mengenalkan kepada publik yang lebih luas. Inilah media pelestarian pusaka.

Penyelenggara : Adriani Zulivan – Indonesian Heritage Inventory (IHI)
Narasumber : Lengkong Sanggar – Roemah Toea dan Abdullah Rafii (Warga Gresik

8. Hukum & HAM

“Strategi Digital dalam Perubahan”

Acara akan diawali dengan diskusi dengan menghadirkan narasumber yang akan berbagi pengalaman mengenai kampanye online tentang hukum dan HAM. Dilanjutkan dengan sesi Open Space, di mana setiap peserta dapat mengusulkan tema-tema untuk dikelompokkan dan dibahas berkelompok.

Penyelenggara : Change.org
Narasumber : Zely Ariane (Papua Itu Kita) dan Titi Anggraini (Perludem)

9. Privasi Internet

“Tantangan Privasi bagi Netizen Indonesia”

Fasilitator :Indriyatno Banyumurti (Ketua RTIK)
Penyelenggara: ICT Watch
Narasumber : Semmy Pangerapan (Stakeholder board ID-IGF), DR. Sinta Dewi (Ketua Cyber Law Center Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran), Donny BU (ICT Watch), dan Perwakilan Kemkominfo.

10. Penyiaran Kebencanaan

“Penyiaran Kebencanaan untuk Indonesia Tangguh”

Radio Darurat, kata ini tidak pernah di kenal dalam regulasi kita di Indonesia, dimana memiliki potensi ancaman bencana yang cukup banyak. Namun Radio Darurat secara praktek sudah hadir dalam berbagai upaya tanggap bencana di Indonesia. Hal ini tak lepas dari kegigihan para aktifis penyiaran di Indonesia yang melihat bahwa pola komunikasi di daerah bencana selalu menjumpai banyak masalah dan komunikasi dalam masa tanggap bencana. Di Indonesia memang belum ada definisi yang baku tentang radio darurat,namun paling tidak sudah banyak pengalaman praktis yang dijalankan dilapangan yang tentu mengajak kita semua mari mendefinisikan sesuai dengan kebutuhan dan berbasis pengalaman yang ada.

Radio Darurat menjadi bagian dari Sistem informasi dan komunikasi yang tertuang dalam Rencana Kontijensi baik di tingkat Nasional oleh BNPB, tingkat Daerah oleh BPBD dan tingkat desa oleh Tim Siaga Desa. Jika selama ini inisiatif datang dari masyarakat, maka sudah saatnya negara menyambutnya dengan regulasi yang melindungi dan menguatkan keberadaan Radio Darurat sebagai media tanggap darurat, dan Radio Komunitas sebagai media untuk membangun kesiapsiagaan, membangun masyarakat yang tangguh dan hidup nyaman bersama ancaman.

Penyelenggara : Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI)
Fasilitator : St Infirohah Al Farida
Narasumber:
-Sukiman (Lintas Merapi FM)
-Sinam M Sutarno (JRKI)
-Muhammad Amrun (CRI)
-Imam Prakoso (AMARC)
-Anton Birowo (UAJY)
-Junichi Hibino (FMYY)

11. Pengelolaan Dana Desa

“Cerdas Mengelola Keuangan Desa”

Pada pekan Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 yang diselenggarakan oleh Combine Resource Institution (21-23 April 2016), INFEST akan menggelar kelas diskusi tentang “Cerdas Mengelola Keuangan Desa.” Diskusi ini mengajak semua praktisi, pemerhati isu desa, pengelola keuangan desa, atau siapa pun yang tertarik untuk belajar dan berbagi bersama tentang cara cerdas mengelola keuangan desa untuk meyakinkan bahwa “desa mampu kelola rumah tangganya sendiri”.

Beberapa narasumber yang terlibat dalam diskusi ini antara lain:
1. Darwanto, Indonesia Budget Center (IBC) – Narasumber. Narasumber ini akan menjelaskan tentang prinsip-prinsip pengelolaan keuangan desa.
2. Hanik Dwi Martya (Kepala Desa Tunjungtirto, Kec. Singosari, Malang) – Narasumber). Kepala Desa Tnjungtirto Kecamatan Singasari Malang ini akan bercerita pengalaman menerapkan pengelolaan keuangan desa partisipatif; implikasi dari keterbukaan keuangan desa; dan penatausahaan keuangan desa berdasarkan pengalaman desa Tunjungtirto.
3. Edi Purwanto (Program Officer INFEST di Malang). Narasumber ini akan bercerita tentang prinsip-prinsip penguatan kapasitas pengelolaan keuangan antar desa.
4. Crystelina (Bag. Humas KPK) – Narasumber: mendorong keterbukaan informasi keuangan desa dan partisipasi pengelolaan keuangan desa.
5. Muhammad Khayat (INFEST) – Moderator

Diskusi ini diselenggarakan pada Jumat, 22 April 2016 pukul 09.00-12.00 WIB di Ruang Radio, Jogja National Museum (JNM).  Kegiatan ini bersifat diskusi santai yang berada di kelas dengan daya tampung maksimal 30 orang. Peserta diskusi merupakan pengunjung JMR yang masing-masing hadir karena ketertarikan pada setiap agenda acara yang dipublikasikan. Peserta bisa berasal dari isu yang beragam, misalnya mahasiswa, akademisi, praktisi isu desa, pendamping desa, hingga perangkat desa atau penentu kebijakan tentang desa.

Pada sesi awal, diskusi dipandu moderator selaku fasilitator diskusi untuk mengantarkan bahan diskusi. Konten diskusi merupakan tips dan trik mengelola keuangan desa dilihat dari peran desa, pendamping, pemerintah supra desa yang terbuka, partisipatif dan akuntabel berbasis pembelajaran 1 tahun implementasi UU Desa.

Kepala Desa Tunjungtirto akan masuk di awal menyampaikan pembelajaran pengelolaan keuangan desa yang terjadi di desa untuk memantik diskusi, dilanjutkan Edi Purwanto tentang strategi penguatan kapasitas yang dilakukan. Selanjutnya Darwanto (IBC) dan Crystelina (KPK) sampaikan elaborasi tentang prinsip-prinsip pengelolaan keuangan di tingkat desa dan pengawasannya sampai tingkat nasional dengan berbagai regulasi dan kepentingan nasional. Peserta diskusi diharapkan partisipatif, kritis dalam proses diskusi tersebut untuk memperkaya konten diskusi.

 

12. Ekonomi Mandiri

“Ekonomi, Konservasi dan Kemandirian Petani”

Petani mandiri merupakan cita-cita yang harus diwujudkan, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, pembentukan Himpunan Tani Kopi Temanggung ini merupakan wadah untuk mencapai kesejahteraan bersama para petani (dalam hal ini petani kopi Temanggung). Adapun poin – poin yang perlu didiskusikan bersama yaitu:
-Bertani sesuai dengan kaidah konservasi
-Melakukan metode tanam tumpang sari dengan menanam aneka komoditas di lahan pertanian, sehingga akan ada sirkulasi ekonomi petani yang tak akan pernah mati.
-Olah produk hasil pertanian pasca panen, pengolahan kopi dengan baik untuk menghasilkan kualitas yang baik hingga akan mendapatkan nilai jual yang sepadan.
-Market dan pemasaran produknya.
Bila petani bisa menerapkan 4 poin di atas, maka kesejahteraan petani akan meningkat.

Penyelenggara : Himpunan Tani Kopi Temanggung

Moderator : Bagus (Petani Kopi Candiroto, Temanggung)
Narasumber : Mukidi (Ketua dan Penggagas Himpunan Tani Kopi Temanggung) dan Sarkoni (Ketua Kelompok Tani Ngudi Mulyo Desa Ngadisepi, Temanggung)

13. Difabel

“Peluang Desa Inklusi dalam Implementasi Undang-Undang Desa”

Gagasan tentang Desa Inklusi hadir untuk menghargai keberagaman dan memunculkan potensi kelompok difabel di desa. Desa Inklusi juga ingin mendorong pemerintah desa untuk melakukan pembangunan manusia yang lebih berperspektif difabel dengan memanfaatkan peluang Undang-Undang Desa. Dengan tujuan mendorong interaksi sosial dan taranan masyarakat yang mengakui, dan terciptanya ruang yang setara bagi untuk berkontribusi bagi pembangunan desa, desa inklusi memiliki ide yang menarik untuk membawa arah pembangunan desa yang lebih inklusif. Masuknya kelompok-kelompok rentan ini dalam keseluruhan proses pembangunan, pengorganisasian masyarakat, dan berbagai kegiatan rutin di desa inilah yang kemudian disebut Inklusi, sebuah laku yang berupaya mengurangi praktik eksklusi atau pengabaian sebagaimana telah terjadi.

SIGAB membawa ide “Peluang Desa Inklusi dalam Implementasi Undang-Undang Desa” dalam Jagongan Media Rakyat untuk mendiskusikan peluang desa inklusi dalam pelaksanaan undang-undang desa dan berbagi pengalaman dengan 8 desa dampingan Rintisan Program Desa Inklusi SIGAB. Adanya proses berbagi bersama tahapan desa inklusi dalam sesi tersebut diharapkan dapat mengajak desa lain untuk melakukan pembangunan yang lebih berperspektif difabel. Dalam satu sesi akan dibagi menjadi 3 sub sesi yaitu:

a. Peluang Desa Inklusi dalam Implementasi UU Desa
Narasumber: Arie Sujito (UGM)

b. Tahapan desa Inklusi belajar dari pengalaman 8 desa

Narasumber : Drs. Sumiran (Camat Lendah), R Wahyu Nugroho, dan Nuryanto (KDD Bumirejo).

Penyelenggara : SIGAB

14. Penanganan Penderita HIV dan AIDS

“Orang Mee sebagai inisiator dan aktor pencegahan HIV dan AIDS di wilayah Meepago (Tanah Mee), Papua”

Berlawanan dengan opini publik yang cenderung menstigmasikan bahwa Orang Asli Papua (OAP) tidak mampu mengelola dirinya, pengalaman Musyawarah Besar (MUBES) di wilayah Meepago (Tanah Mee) pada tanggal 17-20 November 2014 di Nabire menyatakan fakta sebaliknya. Mubes ini menunjukkan kepada publik bahwa Orang Mee tidak hanya menjadi aktor utama tetapi juga menjadi inisiator dalam upaya penanganan dan pencegahan HIV dan AIDS di Tanah Mee.Presentasi ini menawarkan konsep “Pagar Adat Papua” sebagai kerangka komunikasi baru untuk menangani masalah HIV dan AIDS. Model “Pagar Adat Papua” memiliki dua kemampuan besar: mengakui kerentanan sosial dan konflik politik yang berkepanjangan yang menimpa orang Mee dan terlebih mengintegrasikan alam pikiran orang Mee ke dalam pendekatan biomedis pada komunikasi HIV dan AIDS. Dengan demikian, model yang tercipta menjadi lebih baik karena melahirkan strategi pencegahan dan penanganan yang lebih baik terhadap kelompok yang terpinggirkan yang takut bahwa HIV dan AIDS akan mengantar mereka menuju kepunahan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Penyelenggara : Prodi Komunikasi UAJY
Narsumber : Meylani Yo, PhD (Dosen FISIP UAJY)

15. Jurnalisme

“Jurnalisme dan Data di Era Digital”

Di tengah banjir informasi, sulit membedakan satu media dengan media lain. Banyak media hanya mengamplifikasi pernyataan narasumber tanpa menyajikan data yang dinilai penting dan relevan. Situasi ini, betapapun bukan isu baru, ikut menambah apa yang disebut gundukan sampah informasi. Kami menimbang bahwa tema jurnalisme data setidaknya dapat membuka kemungkinan melihat kehadiran jurnalisme dan media masih relevan. Perannya bahkan semakin dibutuhkan untuk meningkatkan kredibilitas di tengah rimba raya informasi guna memantapkan tuntutan diri, di antara hal lain, sebagai penuntun akal dan agregator cerdas.Jurnalisme data memberikan banyak peluang dari pencarian berita, investigasi, hingga penyajian berita yang lebih kreatif dan interaktif. Data yang membeludak di internet, yang disebut big data, menjelaskan pula satu kondisi yang memicu perkembangan banyak alat untuk mengumpulkan serta menganalisis data. Tapi apa yang dimaksud jurnalisme data? Bagiamana peran jurnalisme di era digital untuk tetap relevan? Diskusi ini akan mencoba menjawab pertanyaan itu dan berusaha melihat sejumlah kemungkinan mengenai jurnalisme data di Indonesia.

Penyelenggara : Pindai

Fasilitator: Prima Sulistya (Pindai)
Narasumber: Wisnu Prasetya Utomo (Peneliti Remotivi; editor Pindai.org), Muammar Fikrie (Jurnalis Beritagar.id), dan Sirajudin Hasbi (Pimred Fandom.id)

16. Literasi media

“Media Online dan Melek Media”

Pascareformasi 1998, jumlah media di tanah air bertambah berlipat-lipat dibanding era Soeharto. Ratusan, kini sudah mencapai ribuan, media massa baru muncul bak jamur di musim hujan.

Tapi banyaknya media itu justru membuat publik bingung menentukan mana informasi benar dan tidak. Orang membaca koran, portal berita online, dan menonton televisi bukannya mendapat informasi yang clear. Selain membingungkan, informasi yang muncul cenderung monoton dan seragam. Padahal kuantitas media semestinya berpengaruh pada keragaman konten dan kepemilkan.

Kepemilikan media? Kran kebebasan pers terbuka lebar, memang. Kini orang lebih leluasa mendirikan media. Terlebih mereka yang berduit, banyak dari mereka pengusaha sekaligus politisi. Tapi ujung-ujungnya hanya untuk mendukung kepentingan pribadi dan golongannya.

Meminjam judul buku begawan jurnalisme, Bill Kovach dan Tom Rosentiel, bagaimana mengetahui kebenaran di era banjir informasi? Dan, karena fitrah jurnalisme mengabdikan diri pada kepentingan publik, apa hak dan kewajiban publik terhadap informasi?

Penyelenggara : Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta

Fasilitator : Bhekti Suryani (Sekretaris AJI Yogyakarta)
Narasumber : Darmanto (Masyarakat Peduli Media) (*dalam konfirmasi) dan Anang Zakaria (Ketua AJI Yogyakarta)

17. Media baru

“Perebutan Media Baru untuk Demokrasi”

Satu dekade lebih dari abad milenium menunjukkan bukan hanya darat, air, langit dan luar angkasa yang diperebutkan, melainkan juga ruang siber (cyberspace). Di banyak negara, sudah buru-buru menerapkan berbagai aturan untuk meredam arus demokratisasi yang hadir di ruang siber. China menjadi salah satu negara yang berhasil men-challenge gagasan teknologi pembebasan (libertarian technology) di mana media sosial memegang peranan penting dalam perjuangan demokrasi. Dengan kekuatan otoriter yang kuat, China kini mengubah ruang siber menjadi networked-authoritarianism (Ronald Dielbert, 2012).

Media sosial dipandang sebagai alat penghubung yang efektif karena karakter keluasan jangkauan, kecepatan real-time, efek multiplikasi dan lintas kelas. Seperti contohnya di Indonesia sendiri media sosial tidak hanya dikonsumsi kelas menengah ke atas; kelas bawah pun menggunakannya. Sebuah pesan bisa disebarkan dengan jangkauan melewati batas geografi, mengalami multiplikasi melalui “share” dan “re-tweet” yang kemudian menjangkau siapa saja, dalam kurun waktu “the now” (saat ini juga). Karakter-karakter tersebut di atas, tentu saja membuat aktivisme pun ikut berbenah dengan kehadiran media baru ini. Website-website dan blog menjadi jawaban sebagai media propaganda yang murah dan bisa dimanfaatkan oleh inisiatif-inisiatif di seluruh dunia. Mereka pun menyadari perlunya menggunakan media sosial di dalam penyebaran ide-ide, komunikasi, dan informasi-informasi aksi.

Dengan latar belakang di ataslah diskusi Perebutan Media Baru untuk Demokrasi bertujuan mendiskusikan potensi-potensi media baru/sosial dari contoh-contoh yang ada, memetakan ancaman-ancamannya dan strategi-strategi ke depan untuk mempertahankannya dari kekuatan otoriter yang hendak membungkamnya.

Penyelenggara : Forum Demokrasi Digital

Fasilitator : Yerry Nikolas Borang (EngageMedia)
Narasumber :
Yohanes Widodo (Dosen komunikasi Universitas Sanata Dharma)
Dhyta Caturani (Aktivis dan peneliti FemHack) (*dalam konfirmasi)
Damar Juniarto (Pegiat SAFENET dan Forum Demokrasi Digital)

18. Seni dan Aktivisme Sosial

Diskusi ini akan menelusuri perihal seni dan aktivisme sosial. Bagaimana seni digunakan sebagai media dalam aktivisme sosial? Apa fungsi seni dalam aktivisme sosial? Apakah seni berfungsi sebagai media ataukah cara kerja/metode? Berhasilkah seni menjadi daya dorong perubahan dalam konteks aktivisme sosial di masa sekarang? Apa saja tantangannya?

Penyelenggara : Ketjil Bergerak

Fasilitator : Kiki Pea
Narasumber : Djuwadi (Taring Padi) Jamaluddin Latief (Malmime-Ja) dan Brikolase.

19. Penerbitan Alternatif

“Penerbit Alternatif, Distribusi Alternatif, dan Pasar Alternatif”

Pada acara JMR nanti, Budi selaku fasilitator akan membahas mengenai: “Penerbit Alternatif, Distribusi Alternatif, dan Pasar Alternatif”. Bekerja sama dengan Radio Buku yang merupakan komunitas alternatif berbasis masa, IBC dan Pojok Cerpen akan membahas Penerbitan serta Distribusi Alternatif.

Mengapa perlu? Sebab jika menjadi berbeda adalah pilihan, maka beberapa penerbit Jogja melakukan perbedaan itu. Menerbitkan berdasar tema yang disukai atau membantu menerbitkan karya perseorangan, berkomunikasi langsung dengan publik atau bahkan menjadi bagian dari publik itu sendiri, serta membangun jalur bagi pemasarannya sendiri.
Narasumber : Eka Pojok Cerpen (OAK), Irwan Bajang (Indie Book Corner), dan M. Fairuz Mumtaz (Radio Buku)

20. Gerakan Literasi dan Aktivisme Sosial

“Berliterasi” atau sering dimaknai sebagai kegiatan yang berhubungan dengan akses pengetahuan. Literasi & aktivitas melek wacana hari ini menjadi unik juga kaya, melihat isu literasi yang marak hadir sebagai bentuk dari aktivitas-aktivitas social. Sebagai upaya gerakan social, isu literasi dapat ditemui di banyak sisi ruang geraknya. Isu literasi tak lagi hanya berbicara pentingnya melek baca & tulis, tetapi jauh dari itu aksesi bahan bacaan, melek lingkungan, perspektif pembangunan, bahkan literasi dalam keberpihakan sosial. Dalam upaya merayakan keberagaman gerakan ini, diskusi ini akan melibatkan para penggerak literasi berbagai (daerah) wilayah. diharapkan akan menjadi sarana dalam memperkaya pemaknaan kita akan literasi dalam isu dan gerakan, juga lebih jauh literasi sebagai bentuk aktivisme tersendiri yang memiliki peran transformatif.

Adapun sub-topik yang akan dibahas di kelas ini adalah: Gerakan literasi emansipatif; Literasi perkotaan; “Ecoliteracy” gerakan peka lingkungan; dan pendampingan alternatif literasi anak.

Penyelenggara: Rumah Baca Komunitas
Fasilitator : Rumah Baca Komunitas (open stage)
Narasumber : Ahmad Sarkawi (Rumah Baca Komunitas), David Efendi (Urban Literacy Campaign), Triyanto (Teras Baca Guyub Rukun), Naim (Taman Baca Mahanani – Kediri), dan Prita HW (Sekolah Raya – Bekasi).

21. Media Komunitas

“Media Komunitas di Tengah Arus Media Baru”

Teknologi internet sangat mendorong perkembangan media komunitas di seluruh dunia. Internet mengubah pola bermedia dari yang semula satu arah menjadi dua arah, bahkan multi-arah. Media komunitas adalah media yang sumber informasinya berasal dari banyak pihak (crowd source). Meski tak dimungkiri bahwa media komunitas dalam bentuk cetak, radio maupun televisi bisa dikelola secara dua arah—karena itulah kata kunci dari media komunitas—, tetapi internet, dengan formatnya yang begitu fleksibel, menjadi sangat relevan bagi media komunitas. Sifat internet yang mengglobal juga memungkinkan interaksi antarmedia komunitas terjadi. Ciri khas media komunitas (berbasis teritori) yang ‘cakupan dan jangkauan terbatas’ bisa diatasi dengan internet, sehingga media komunitas tidak lagi isolatif, tetapi bisa sangat terbuka. Internet memungkinkan proses artikulasi informasi menjadi lebih cepat dan mudah—tidak saja aktual, bahkan real-time. Dan Gillmor mengatakan bahwa internet merupakan sistem publikasi yang sangat berpengaruh yang digunakan pelbagai jurnalis untuk menciptakan efek yang besar (Gillmor 2006, 27).

Media komunitas di Indonesia sebagian besar berada di wilayah demografi yang masuk dalam kategori pedesaan dan/atau pinggiran kota (rural-suburban). Sebab biasanya, media komunitas tumbuh di tengah masyarakat yang minim akan akses informasi atau hiburan. Di daerah seperti ini, teknologi pun tidak semasif di kota-kota besar. Di beberapa daerah di Indonesia, radio masih menjadi teknologi paling canggih. Ketidakmerataan pembangunan fasilitas komunikasi menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, faktor keterlambatan berkembang akibat represi negara juga menjadi penyebab.

Di tengah kondisi semacam itu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang kemudian mendorong munculnya fenomena media baru yang menghadapkan bahkan memaksa media komunitas pada tantangan baru. Setiap media komunitas memiliki cara masing-masing untuk menghadapi tantangan tersebut. Bagaimana nasib media komunitas di masa depan? Apakah mereka berhasil beradaptasi.

Penyelenggara : Combine Resource Institution
Fasilitator : Ferdhi F Putra (CRI)
Narasumber :
Anton Birowo (UAJY)
Ranggabumi Nuswantoro (UAJY)
Idha Saraswati (CRI)