01KPK

REMBUG PRAKARSA

“Menjelajahi Inisiatif, Menganyam Kemandirian Komunitas”

Jagongan Media Rakyat (JMR) dirancang untuk menjadi salah satu ruang antara yang mempertemukan berbagai komunitas dengan inisiatifnya. Di ruang itulah masing-masing komunitas bisa saling berbagi pengalaman dalam merespons peluang dan tantangan yang ada, untuk kemudian saling menghubungkan diri menjadi bagian dari sebuah jaringan yang berselang-seling menganyam tujuan bersama. Tema “Menganyam Inisiatif Komunitas” akan dikupas dalam tiga kategori pembahasan, yakni inovasi, literasi dan advokasi. Melalui tiga kategori ini, JMR diharapkan bisa menghadirkan beragam sisi dampak dari perubahan, termasuk cara komunitas merespons dampak tersebut, secara lebih utuh.

JMR2016
Pada 2016 ini, JMR diselenggarakan untuk yang keempat kalinya. Kegiatan ini pertama kali digagas pada 2010 dan kemudian menjadi kegiatan rutin dua tahunan. Sejak awal, JMR memang dirancang sebagai ruang untuk mempertemukan kelompok-kelompok masyarakat yang secara umum memperjuangkan kepentingan komunitas, maupun secara khusus bergelut di bidang tata kelola informasi—termasuk di dalamnya media komunitas. JMR diharapkan bisa menjadi tempat mengartikulasikan aspirasi yang berujung pada gerakan bersama untuk mendorong perbaikan di sektor media dan tata kelola informasi yang lebih berpihak kepada rakyat.

Rembug Prakarsa merupakan sesi puncak penyelenggaraan JMR 2016 yang akan menghadirkan para pembicara yang merupakan perwakilan dari kelompok warga yang memiliki inisiatif bermanfaat bagi komunitasnya. Pembicara yang tampil dalam sesi ini merupakan contoh dari beragam inisiatif positif yang telah dikelola oleh warga/komunitas dari waktu ke waktu di banyak wilayah di Indonesia. Pengalaman membangun inisiatif di beragam sektor kehidupan masyarakat ini penting untuk dikupas secara mendalam untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan keberlanjutannya.

Masa depan negara bangsa kini ada pada komunitas dengan inisiatif kemandiriannya. Dengan lebih dari 200 juta penduduk dengan keragaman budaya dan lingkungannya, Indonesia memiliki kekayaan potensi sumber daya manusia yang luar biasa. Belum berhasilnya negara mewujudkan kesejahteraan umum dan keadilan sosial justru memicu lahirnya banyak prakarsa (inisiatif) warga/komunitas untuk mengisi ruang-ruang yang belum terpenuhi. Lahirnya beragam inisiatif ini menjadi simbol sekaligus wujud nyata karya anak bangsa untuk mencapai kesejahteraan umum dan keadilan sosial yang dicita-citakan itu secara mandiri. Apresiasi negara atas beragam inisiatif untuk kemandirian komunitas tidak selalu ada, tetapi hal itu tak menyurutkan semangat banyak komunitas untuk terus memelihara dan melahirkan inisiatif-inisiatif positif dari waktu ke waktu.

Kerja-kerja pemberdayaan dan kemandirian komunitas secara umum dapat dibaca dalam tiga ranah/konteks, mencakup inovasi, advokasi, dan literasi. Ketiganya dapat hadir baik secara bersamaan maupun bertahap. Pada satu sisi, inovasi inisiatif untuk mendorong kemandirian komunitas akan bisa lahir ketika budaya literasi telah terkuatkan. Pada sisi yang lain, penguatan budaya literasi itu sendiri pun perlu berbagai inovasi untuk menjalankannya, khususnya dalam strategi pengkomunikasikan gagasan dan praktik. Selain untuk membangun keberdayaan komunitas/warga sendiri, kekuatan komunitas yang didapat dari literasi dan inovasi itu bisa dimanfaatkan untuk mendukung kerja-kerja advokasi atas pemenuhan hak warga negara. Proses ini akan menjadi siklus yang tak akan pernah berhenti dan akan semakin meluas melibatkan lebih banyak jejaring komunitas/warga. Kolektivitas membangun keberdayaan dan kemandirian adalah semangat yang harus terus dipelihara dan dihidupi. Saluran-saluran pertukaran gagasan, pengetahuan, dan pengalaman dalam kerja-kerja literasi, inovasi, dan advokasi harus terus diperkaya dan dibuat semakin menarik untuk mendorong lebih banyak orang terlibat.

Jagongan Media Rakyat (JMR) sejak 2010 hingga kini telah menjadi salah satu saluran pertukaran pengetahuan dan pengalaman inisiatif komunitas. Strategi pengelolaan pengetahuan dan strategi komunikasi yang dijalankan oleh setiap komunitas adalah hal yang dihimpun untuk dipelajari bersama. Pengalaman menghidupkan inisiatif kemandirian komunitas seperti yang telah dilakukan oleh John Bamba di Kalimantan Barat dan Hatta di Borobudur adalah dua contoh dari banyak ide inovasi dan advokasi di JMR yang telah terbukti memberikan dampak manfaat bagi warga/komunitas. Pengalaman Mila Rosinta dalam menerjemahkan isu-isu sosial kemasyarakatan melalui media seni tari untuk pendidikan publik yang praktis merupakan satu model inovasi strategi komunikasi dalam pemberdayaan komunitas. Pengalaman Dandhy Dwi Laksono mendokumentasikan beragam inisiatif komunitas/warga di banyak daerah di Indonesia dalam berbagai konteks dan tujuan merupakan salah satu inisiatif masyarakat sipil untuk ikut menguatkan kerja-kerja kolaboratif di tingkat akar rumput yang sudah hidup dan berjalan. Empat orang dengan empat pengalaman dan pengetahuan yang berbeda ini akan dianyam sebagai salah satu pijakan untuk menyusun peta inisiatif kemandirian komunitas yang semakin kolektif, inklusif, dan kreatif.

Pembicara dan Moderator

  • Dandhy Dwi Laksono (Jurnalis video, pelaku Ekspedisi Indonesia Biru, pendiri WatchDoc – Jakarta)
  • M. Hatta (Pemandu wisata di Taman Wisata Candi Borobudur, pegiat Radio Komunitas MGM FM di Desa Borobudur – Jawa Tengah)
  • Mila Rosinta (Penari dan koreografer profesional – Yogyakarta)
  • John Bamba (Pendiri Credit Union Gemalaq Kemisiq – Kalimantan Barat)

Moderator: Imung Yuniardi (Direktur Combine Resource Institution)

Rembug prakarsa

Waktu dan Tempat
Rembug Prakarsa ini akan diselenggarakan pada hari ketiga JMR 2016, pada Sabtu, 23 April 2016 pukul 08.30 – 12.00 di Pendapa Ajiyasa, kompleks Jogja National Museum (JNM) Jl. Ki Amri Yahya No. 1 Wirobrajan, Yogyakarta.