Mengembangkan Jurnalisme Berbasis Data

Jurnalisme Data di Era Digital menjadi salah satu agenda diskusi menarik dalam helatan Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016, (23/4). Digelar di Ruang Surat Kabar, Jogja National Museum (JNM)  diskusi ini menghadirkan narasumber yakni Muammar Fikrie (Beritagar.id), Wisnu Prasetya Utomo (Remotivi), Sirajudin Hasbi (Fandom.id) dan Fahri Salam (Pindai.com) sebagai moderatornya.

“Seiring perkembangan zaman, para jurnalis sudah mulai banyak yang menggunakan junalisme berbasis data karena teknologi-tenologi yang mendukung,” papar Fikrie, (23/4). Para narasumber menyoroti bagaimana jurnalis menggunakan data-data dalam penyampaian suatu pesan.

Jurnalisme data merupakan cara mencari berita secara kuantitatif. Berbeda dengan kualitatif yang lebih fokus padapersoalan mendalam.”Panama Paper salah satu berita yang menggunakan data-data juga berita tentang penyebaran ISIS juga bisa dijadikan sebagai data,” papar Wisnu.

Sejarah singkat jurnalisme data mengawali diskusi yang berlangsung mulai pukul 15.30 WIB ini. Berkembang sebelum tahun 2000, jurnalisme data berjalan seiring berkembangnya teknologi komputer. Itu  terjadi karena mengolah data sangat membutuhkan teknologi tersebut. “Contohnya seorang jurnalis selesai mengumpulkan data. Karena beritanya terikat deadline untuk ditayangkan, maka ia membutuhkan alat untuk mengolah data-data tersebut. Salah satu contohnya yaitu komputer dengan menggunakan aplikasi Excel,” papar Fikri.

Tak hanya membahas bagaimana jurnalis mengumpulkan data secara umum,  tetapi juga pada bidang-bidang khusus. Hasbi menyoroti pengumpulan data yang dilakukan jurnalis di bidang olahraga. “Di bidang olahraga dibutuhkan data-data. Contohnya, berapa kali sebuah tim mengalami penalti. Dan masih banyak data-data yang lain yang bertujuan untuk memuaskan para pecinta sepak bola,” pungkas Hasbi.

 

Penulis: Hartono Wira Ardi Jaya Kusuma Lase

Editor: Rosa Vania Setowati

John Bamba, Penggerak Akar Rumput Kalimantan

“CU harus peduli terhadap permasalahan sosial. CU tidak hanya fokus pada isu-isu ekonomi. CU harus concern terhadap masalah sosial di sekitar masyarakat.”

Bamba (copy)

Demikian sepenggal kutipan John Bamba, penggerak Credit Union (CU) Gerakan Gemalaq Kemisiq suatu siang di Jogja National Museum, (23/4). Pria yang mudah dikenali dengan gaya khas topi dan batik Kalimantannya ini menceritakan gerakan dan aktivitasnya seputar CU yang dibangunnya.

Selain dikenal sebagai dayakolog (budayawan Dayak), John Bamba juga seorang aktivis asal Ketapang, Kalimantan Barat. CU Gerakan merupakan terminologi yang membedakan dengan CU-CU lembaga keuangan murni lainnya. Lembaga tersebut tetap bekerja seperti bank dan berbadan hukum koperasi. Lantas apa yang membedakannya dengan lembaga keuangan lainnya?

Gerakan Akar Rumput untuk Perubahan

CU Gerakan memiliki idealisme dan ideologi yang terpatri pada tiap anggotanya. Lembaga tersebut ikut terlibat dan terjun langsung pada permasalahan sosial dalam masyarakat, seperti masalah sosial, lingkungan, dan ketidakadilan. CU Gemalaq Kemisiq (GK) merupakan satu dari empat CU Gerakan di Indonesia, yang sementara ini semuanya masih berada di Kalimantan. CU tersebut mencoba untuk berkontribusi dan menunjukkan keberpihakannya pada masyarakat, bukan menjadi komunitas ekslusif.

Ide dan gagasan awal munculnya CU Gerakan berasal dari cerminan persoalan masyarakat daerah Kalimantan. Lembaga-lembaga keuangan saat ini tidak memiliki kepekaan sosial, hanya beorientasi pada keuangan. Kerja sama berubah menjadi persaingan. Manusia berubah menjadi ‘uang’. Kualitas berubah menjadi kuantitas. John Bamba bersama rekan aktivis lainnya berusaha untuk mengubah keadaan agar lembaga keuangan memiliki kepekaan dan keberpihakaan pada masyarakat.

Proses yang dilalui John Bamba cukup panjang, meskipun ia baru memperkenalkan terminologi CU Gerakan pada 2011. Proses panjang ini diawali dengan berkumpulnya beragam organisasi dan lembaga di satu wadah yang sama. Beberapa diantaranya adalah Institut Dayakologi, percetakan, dan Lembaga Bela Banua Talino. Di bawah naungan Yayasan Pancur Kasih, tiap organisasi kemudian menjalankan peran sesuai bidangnya masing-masing. Setelah itu, dibangun Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK) yang sekarang dipimpin oleh John Bamba. Anggotanya terdiri atas 10 organisasi dan 5 CU Gerakan.

Nyatanya, praktik gerakan akar rumput telah ada sejak tahun 1990an. Gerakan tersebut ternyata membulatkan tekad mereka untuk mengembangkan dalam beberapa sektor kehidupan. Salah satunya dengan mendirikan CU GK dan difokuskan pada pengelolaan keuangan pada 1999. CU tersebut merupakan alat gerakan dan difasilitasi oleh Institut Dayakologi. Gemalaq Kemisiq merupakan nama tokoh yang sukses menghapus perbudakan pada zaman kolonial. Semangatnya diharapkan mampu menghapus masyarakat dari ‘lingkaran setan’ kemelaratan.

CU Gerakan dapat disebut juga CU Plus. “CU Plus harus profesional untuk mengelola keuangan anggota. Tidak boleh kompromistis. Sebab uang bukan tujuan. Tujuan kita adalah membawa perubahan. Menciptakan manusia yang berkualitas, bukan budak uang,” papar John Bamba kala mengisi Rembug Prakarsa dalam puncak acara Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016.

CU Gemalaq Kemisiq kini makin melejit. Dampaknya dapat dirasakan oleh banyak penduduk di Kalimantan. Dengan total anggota lebih dari 15.000 orang dan aset lebih dari 200 miliar rupiah, mampu memberikan bunga simpanan sebesar 15% tiap tahunnya. Jumlah yang besar itu merupakan hasil kerja keras masyarakat Kalimantan selama kurang lebih 17 tahun, sejak didirikannya Gemalaq Kemisiq.

“Lembaga kami, CU Gerakan tidak akan memberi pinjaman anggota untuk kegiatan yang tidak berdampak positif bagi masyarakat. Seperti berjudi dan membeli kebun sawit,” jelas pria asal Kalimantan ini sambil tersenyum.

Berbicara mengenai CU Gerakan, John Bamba juga menekankan pada keberanian para pengurus dan aktivisnya. Dengan tegas, John mengemukakan tidak bekerja sama dengan pemerintah untuk saat ini. Lembaga yang dipimpinnya murni berdiri sendiri. Sebab, pernah terjadi gesekan terhadap salah satu CU Gemalaq Kemisiq. Itulah salah satu tantangan bagi orang-orang yang mau bergabung membawa perubahan bersama CU Gerakan. Banyak persoalan dalam masyarakat yang sebenarnya perlu diselesaikan.

CU Gerakan dapat memfasilitasi CU-CU lain yang mau bergabung dan memiliki semangat, untuk ikut peduli dan mau terlibat dalam persoalan masyarakat. Tidak ada syarat tertentu, sehingga terbuka bagi siapa saja yang ingin melakukan gerakan besar lainnya. Karya dan kerja keras John Bamba terangkum dalam sebuah buku bertajuk Credit Union Gerakan Konsepsi Filosofi Petani (2015).

Tak disangka, ternyata gerakan akar rumput pembawa perubahan itu sampai juga di telinga Dandhy Dwi Laksono. Ia merupakan jurnalis video dan pemimpin Watchdoc. Watchdoc merupakan rumah produksi audio visual sejak 2009. Karya-karya yang dihasilkannya sebagian besar terinspirasi atas keprihatinan dan persoalan dalam masyarakat. Dandhy Laksono dan timnya ikut mengabadikan segala macam aktivitas dan semangat CU Gerakan dalam sebuah film dengan judul ‘Anti-Bank’.

Gerakan perintis seperti CU Gerakan memang dibutuhkan masyarakat saat ini. Berbagai persoalan masyarakat harus diselesaikan dengan bantuan dari pihak lain. Mereka yang peduli dan memiliki kepekaan tinggi mampu menjadi agen-agen perubahan demi membawa Indonesia yang lebih baik. Setidaknya masih ada secercah harapan bagi kemajuan negeri Ibu Pertiwi. Jangan putus semangat demi memperjuangkan kepentingan bersama, terutama keberpihakan pada masyarakat kecil.

Penulis: Yosepha Debrina

Editor: Rosa Vania Setowati

Stigma terhadap Difabel Berakar dari Lingkungan Sosial

M. Joni Yulianto, Direktur Eksekutif Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (Sigab) saat pemutaran film dan diskusi tentang difabel pada gelaran Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 di Jogja National Museum (23/4).
M. Joni Yulianto, Direktur Eksekutif Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (Sigab) saat pemutaran film dan diskusi tentang difabel pada gelaran Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 di Jogja National Museum (23/4).

Masih banyak orang yang memberi stigma negatif pada kaum difabel. Tidak sedikit pula yang berasumsi bahwa difabel tidak berdaya. Brita Putri Utami dari Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (Sigab) mengatakan, stigma dan kondisi tersebut diciptakan oleh lingkungan sosial itu sendiri.

Dalam agenda pemutaran film dan diskusi mengenai difabel di Jogja National Museum (JNM),(23/4) saat gelaran Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016, Brita mengatakan bahwa sejak dari lahir pun, difabel tidak mendapat pengakuan. “Dari Kartu Keluarga pun tidak dicantumkan apa hambatannya (difabel-red),” jelasnya.

Brita mengungkapkan, pasti ada asumsi bahwa teman-teman difabel harus belajar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Padahal ada difabel yang mampu belajar di sekolah umum. “Stigma masyarakat itu terbentuk dari alam bawah sadar,” lanjutnya. Alam bawah sadar masyarakat mengatakan bahwa difabel tidak normal. “Padahal itu normal,” tegas Brita.

Joni Yulianto selaku Direktur Eksekutif Sigab juga menyampaikan pendapatnya. Menurutnya, mula-mula masyarakat menganggap orang yang tidak sama dengan orang kebanyakan itu tidak normal. Semakin hari, “Anggapan itu berubah, dari tidak normal menjadi tidak bisa,” tuturnya.

Brita yang menjabat sebagai Koordinator Data dan Informasi Sigab ini menyebut negara ikut menciptakan stigma dan kondisi tersebut. Di beberapa ujian masuk sekolah maupun perguruan tinggi, ada syarat-syarat yang terkesan diskriminatif. “Di jurusan-jurusan tertentu, syaratnya tidak boleh buta warna,” paparnya. Padahal menurutnya, teman-teman difabel sudah mempunyai kesadaran tersendiri akan kemampuannya. “Kenapa tidak dibuka saja semua (kesempatannya-red)? “Siapa tahu (difabel-red) punya kemampuan,” tanyanya.

Joni optimis, jika iklim yang ramah difabel sudah terbangun, teman-teman difabel bisa semakin berdaya. “Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk negara,” imbuhnya. Namun dengan kondisi yang sekarang, Joni belum berharap banyak. “Jika kesempatan kerja bagi difabel dibuka, mungkin masih banyak difabel yang tidak memiliki kapasitas.”

Berdasar data terbaru dari World Health Organization, sebanyak 15% penduduk Indonesia merupakan penyandang disabilitas. Brita meyakini bahwa jumlah tersebut lebih rendah dari jumlah yang sebenarnya. Namun, metode pendataan di Indonesia yang buruk membuat masyarakat kesulitan mendapat statistik yang akurat.

“Seharusnya Indonesia sudah membuat pendataan dari awal,” ujar Brita. Hal tersebut bisa dimulai saat penduduk membuat Kartu Keluarga atau KTP (Kartu Tanda Penduduk-red). Selain bisa diolah, data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi difabel.

Berkaitan dengan fasilitas yang tidak atau kurang akses bagi difabel, Brita menyebut bahwa kita bisa melakukan perubahan dengan cara-cara sederhana. “Saat mengakses fasilitas publik, kita bisa mulai perhatikan apakah akses bagi difabel atau tidak.” Brita sendiri menyayangkan, banyak pembangunan fasilitas publik yang tidak berpedoman pada peraturan yang ada. “Padahal peraturan Menteri Pekerjaan Umum sudah sangat bagus,” tandasnya.

Penulis: Ilham Bagus Prastiko

Editor: Rosa Vania Setowati

Aksi Musisi Suarakan Keresahan Warga

Ketjil Bergerak menyanyikan lagu Hai Anak Alam, Jumat (22/4) dalam Panggung Rakyat JMR 2016 di Pendapa Ajiyasa Jogja National Museum.
Ketjil Bergerak menyanyikan lagu Hai Anak Alam, Jumat (22/4) dalam Panggung Rakyat JMR 2016 di Pendapa Ajiyasa Jogja National Museum.

Yogyakarta – Panggung Rakyat, salah satu mata acara dalam Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 malam ini, Jumat (22/4) dimeriahkan oleh tiga band asal Jogja, yakni Ketjil Bergerak, Kota dan Ingatan, dan Chick and Soup. Bertempat di Pendapa Ajiyasa Jogja National Museum (JNM), acara ini mencoba menampilkan sisi lain dari musisi yang ternyata mampu menyuarakan keresahan yang muncul di masyarakat.

Penampilan oleh Ketjil Bergerak dengan tiga lagunya yaitu ‘Negara’, ‘Sebelum Semua Ruang Diukur dengan Uang’, dan ‘Hai Anak Alam’ membuka acara ini pukul 19.00 WIB. Disusul penampilan Kota dan Ingatan, lalu penutup oleh Chick and Soup hingga pukul 21.30 WIB.

Tiga lagu dari Ketjil Bergerak tadi adalah sebagian dari delapan single yang sejauh ini mereka miliki. Penonton pun terlihat antusias dan sempat mengajukan beberapa pertanyaan. “Lagu ini diciptakan tahun ini (2016), ini featuring (berkolaborasi-red) siswa Sekolah Dasar (SD) Kanisius Magelang. Saat itu gurunya curhat, itu kan sekolah tua, dulu berjaya tapi sekarang muridnya sangat sedikit. Nah terus kita bikin lagu ya harapannya agar sekolahnya bisa survive (bertahan). Anak sekarang kan kekurangan lagu anak ya, entah karena tidak populer atau kurang komersil,” ungkap Greg, salah satu pendiri gerakan Ketjil Bergerak yang juga bermain musik.

Sebuah sajian musik yang apik grup musik Kota dan Ingatan pun menjadi daya tarik tersendiri pada Panggung Rakyat kali ini. Band yang beranggotakan lima pria alumni Institut Seni Indonesia (ISI) tersebut menampilkan tiga single andalan mereka, yakni  ‘Menara’, ‘Kanal’, dan ‘Pagi Tenggelam’. Tiga lagu ini adalah hasil dari catatan keseharian para personil mengenai realita dan permasalahan di perkotaan saat ini. Catatan tersebut lalu dituangkan dalam tiga lagu sejak band ini dibentuk, Maret 2016 lalu.

Salah satu single, ‘Pagi Tenggelam’ bercerita tentang sejarah yang diputarbalikkan atau tentang pembenaran atas kekerasan demi membela suatu golongan agama tertentu. “Lagu itu relevan dengan kejadian hari ini, ketika orang mengatasnamakan kepercayaan tertentu untuk melakukan kekerasan. Kami pikir semua orang punya kecenderungan memutar balikkan kenyataan. Lalu menggunakan kebenaran yang menguntungkan sekelompok orang,” ujar Adit, sang vokalis band, (22/4).

Adit menjelaskan bahwa mereka bermusik untuk menyuarakan catatan mereka, tak hanya dari tempat di mana mereka tumbuh, namun juga seluruh permasalahan di perkotaan sejauh mereka temui. Suguhan musik yang lembut dan centil dari Chick and Soup kemudian menutup Panggung Rakyat hari ini.

Penulis: Angela Shinta Dara Puspita

Editor: Rosa Vania Setowati

KPK Merubah Sistem, Mempersempit Adanya Korupsi

IMG20160423192034

KPK menerapkan pendekatan baru dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi, demikian disampaikan oleh Aldi Nugraha dalam diskusi Jagongan Media Rakyat 2016, Jogja National Museum (23/04).

Yogyakarta — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berencana akan melakukan perubahan sistem untuk mempersempit terjadinya tindak pidana korupsi. Demikian diungkapkan oleh Aldy Nugraha dalam hajatan Jagongan Media Rakyat (JMR) di Jogja National Museum, (23/04).

KPK melakukan perbaikan pelayanan publik dalam kerangka perbaikan sistem. Dengan program ini, kami menekankan kontrol,” ungkap Aldy. Dia mengeluhkan perbaikan yang hanya berhenti pada tataran sistem. Sebab, masyarakat kurang memberi respon dalam melihat hal ini. “Masyarakat kurang merespon adanya korupsi. Karena mereka masih beranggapan bahwa korupsi adalah hal yang sangat elitis. Hanya mereka yang berpolitik yang melakukan tindakan ini,” tambahnya.

Untuk memperlancar program tersebut, KPK menggunakan pendekatan baru. Orang yang duduk dalam Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK ini menjelaskan, maksud dari pendekatan baru adalah dengan melibatkan masyarakat dalam pemberantasan korupsi. “Kami mendekati masyarakat dan mengajaknya untuk bergabung dengan kami secara diam-diam untuk selalu mengontrol dan mengingatkan temannya masing-masing,” ungkapnya. Selain melakukan pendekatan tersebut, KPK juga membuka kanal-kanal dengan harapkan mampu bekerja sama dengan komuntas lain dan dapat memperluas jaringan.

Dhendy Adi, menghimbau masyarakat tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran. Dia khawatir, kalau tak berpegang pada nilai tersebut masyarakat akan dikendalikan oleh orang lain. “Yang lebih mengkhawatirkan lagi jika yang mengendalikannya itu orangnya lebih pintar daripada kita, bisa-bisa nanti kita seperti katak dalam tempurung,” ujarnya. Dia juga mengkhawatirkan kalau kita tak mampu berpegang teguh dengan nilai itu (kebenaran -red), kita terjerumus pada kepentingan ego masing-masing, tanpa memperhatikan permasalahan yang sebenarnya.

KPK tidak hanya membangun partisipasi publik, tapi juga melakukan intervensi  terhadap pemerintah. “Seperti di Banten, Riau, dan Sumatera Utara, itulah yang dipantau KPK sekarang,” tegas Arif Budiman dari Komunitas Jujur Barengan Jogja.

Dengan adanya pemantauan terhadap daerah-daerah tersebut, Arif menjelaskan korban yang paling parah menerima resikonya adalah masyarakat sendiri baik pada tingkat RT, RW, kelurahan maupun kecamatan. Oleh sebab itu, KPK menghimbau untuk tetap berpartisipasi dalam politik berintegritas supaya dapat mempersempit kesempatan untuk melakukan tindak pidana korupsi.

Sebagai penutup, Arif mengungkapkan bahwa jumlah penyidik dari KPK hanya 80 orang. “Sebenarnya KPK kuwalahan (kewalahan-red) dalam mengawasi kasus korupsi. Maka perlu adanya keterikatan dan inisiatif teman-teman sendiri. Bukan hanya dari KPK,” pungkas Arif mengingatkan.

Penulis : Anis Nur Nadhiroh

Editor : Buono

Kapan Aku Bebas Memilih?

Seorang gadis keturunan Tionghoa beragama Buddha. Ia berstatus agama tersebut, demi melanjutkan tradisi keluarganya. Sementara itu, semenjak kecil ia bersekolah di sekolah Katolik. Hal tersebut ternyata menumbuhkan kesukaannya pada dunia Kristiani. Sayangnya, ketertarikannya ditentang oleh orang tua. “Apakah sebuah tradisi harus membatasi dalam beragama?” Demikian secuil kutipan terakhir dalam film bertajuk Keyakinanku adalah Aku  .

Film besutan Asisi Art Community dan Kampung Halaman tersebut menjadi salah satu deretan film dokumenter yang diputar dalam hajatan JMR 2016, (22/4). Film lainnya bertajuk “Entah” yang diproduksi oleh produser yang sama juga diputar di tempat yang sama, yakni di Ruang Bioskop JMR.

Pemutaran kedua film tersebut pun berlanjut dengan diskusi hangat bertema Hak Asasi Manusia (HAM).  “Permasalahan seperti ini sering terjadi, nggak cuma agama, bahkan dalam memilih sekolah.  Kondisi tersebut malah menjadi stigma di masyarakat. Bagaimana kita menyelesaikan permasalahan seperti ini?” ujar Sarlizul Hendra, pegiat HAM.

Sama halnya dengan film kedua berjudul “Entah” yang mengisahkan kebimbangan seorang gadis yang dihadapkan perbedaan keyakinan kedua orangtuanya. Ayahnya beragama Buddha, sedangkan ibunya Hindu. Sebagai anak, ia merasa bimbang saat dituntut untuk memilih sementara kedua orangtuanya tidak saling mendukung menawarkan opsi.

“Sebenarnya ini problem keluarga ditambah kondisi lingkungan. Tiap anak berhak untuk memilih kepercayaannya. Tapi sejak kapan ia bisa menggunakan haknya? Tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan sudut pandang hukum. Harus dicari pendekatan lain. Persoalan agama sekalipun, negara tidak berhak intervensi,” papar Sarlizul.

Kampung Halaman merupakan organisasi nirlaba dan berdiri sejak 2006 di Yogyakarta. Organisasi tersebut bersinergi dengan berbagai rekan di seluruh Indonesia untuk bersama-sama memperkokoh peran remaja dan anak muda. Masing-masing dari mereka memanfaatkan media berbasis komunitas dan dilakukan secara partisipatif.

Jagongan Media Rakyat (JMR) ialah kegiatan yang diselenggarakan oleh Combine Resource Institution (CRI) dan bersifat dua tahunan. Perhelatan tersebut berusaha untuk mewadahi berbagai pengalaman dan pengetahuan antar lembaga dan komunitas. Strategi pencapaian masing-masing pihak pun juga turut menjadi perhatian. Harapannya, hal tersebut mampu membawa perubahan bagi masyarakat dan menyelesaikan persoalan yang ada.

“JMR bisa jadi wadah sharing (berbagi-red) dan ternyata banyak orang lain yang juga  concern (peduli) terhadap anak,” kata Febi, pegiat organisasi Sahabat Kapas yang fokus pada Anak-anak dalam Kondisi Khusus dan Rentan (AKKR), khususnya penghuni Rutan Kelas I Surakarta.

Penulis: Yosepha Debrina

Editor: Apriliana Susanti

Radio Komunitas, Radio Darurat Bencana

IMG20160423163203

Mario Antonius Birowo dalam sebuah diskusi Jagongan Media Rakyat 2016, Jogja National Museum (23/4).

Yogyakarta. – Radio komunitas dalam kondisi darurat memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Salah satu manfaat tersebut adalah memberikan informasi di berbagai titik daerah rawan bencana seperti yang terjadi di Sinabung. Hal ini diungkapkan oleh Iman Abda, pemateri pada diskusi bertajuk penyiaran kebencanaan untuk Indonesia tangguh dalam hajatan Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 di Jogja National Museum, (23/04).

Kegunaan radio darurat kemarin (dalam tanggap darurat di Sinabung – red) tak hanya memberi informasi, tapi juga mendatangkan bantuan dari pemerintah. Pada saat itu bantuan belum datang kami siarkan lewat radio, tidak berselang lama bantuan itu datang,” ungkap Iman dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) ini.

Senada dengan Iman, Sinam MS selaku ketua JRKI mengungkapkan, radio darurat menjadikan meluasnya jaringan. “Seperti bencana tanah longsor Si Jemblung, Banjarnegara, kami menyiarkannya, sehingga radio darurat dapat menjalin kerjasama dengan lembaga lain,” jelasnya.

Selain melakukan penyiaran, radio komunitas juga melakukan pelatihan jurnalistik dan pelatihan penyiaran. “Kami melakukan pelatihan di gedung SMP HOS Cokroaminoto (Banjarnegara-red),” papar Sinam.

Hal lain yang telah dilakukan radio komunitas adalah membangun keyakinan dalam masyarakat untuk berhati-hati jika hujan melebihi 6 jam, besar kemungkinan akan terjadi longsor. Radio komunitas juga memberikan hiburan. Dalam hal ini, ada salah satu warga setempat yang kehilangan anggota keluarganya akibat longsor, ia bergabung menjadi penyiar radio. “Dalam siarannya, Ia menghibur pada korban bencana untuk tidak bersedih berlarut,” tambah Sinam.

Dilihat dari pengoperasiannya ketika terjadinya bencana, radio komunitas tidak melegalkan keberadaan radio darurat. Sebab kami tidak ingin muncul berbagai aturan setelah dilegalkan. “Tidak kami legalkan. Kami mengutamakan manfaat daripada pelegalan,” Sinam menambahkan.

Manfaat yang diperoleh dengan adanya radio komunitas ini ketika bencana tsunami Aceh yang menghancurkan seluruh infrastruktur. Saat itu, informasi mengenai tsunami di Aceh tak diketahui oleh orang Indonesia, tapi dari Thailand.

Yang ingin saya gambarkan adalah kepanikan. Panik terjadi karena minimnya informasi. Kalau seandainya Ia tak memperoleh informasi, besar kemungkinan memperbanyak jumlah korban,” tutur Mario Antonius Birowo, peneliti radio komunitas dari Universitas Atmajaya Yogyakarta. Ia memberi kesimpulan dengan banyak informasi yang diperoleh akan memperkecil resiko bencana. Pun demikian, semakin mudah dalam memperoleh alat informasi seperti radio, semakin kecil resikonya. “Oleh karena itu, komunitas ini ketika bencana datang, juga memberikan radio kecil dengan baterai sekali pakai,” ungkapnya.

Penulis : Anis Nur Nadhiroh

Editor : Buono

Aksi Kecil Demi Perubahan Besar

Yogyakarta –  ‘Cabe, Harga Sebuah Kebebasan’ merupakan salah satu film yang diputar dalam Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016. Film yang berkisah tentang kesederhanaan para narapidana besutan Sahabat Kapas ini berlanjut dengan diskusi di Jogja National Museum, Kamis (22/4).

Film produksi tahun 2014 ini menceritakan kerinduan para narapidana akan rasa pedas cabai. Para narapidana mendapatkan cabai dari hasil usaha sablon tas.  Ternyata, bumbu masak itu mampu menghadirkan desiran bahagia. Mereka menyebutnya surga dunia. Sebab tidak hanya rasanya, namun canda tawa juga menyempurnakan kerinduan akan kebebasan.

Film berdurasi 16 menit itu dibuat oleh para penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas 2B Klaten. Keterlibatan mereka perlahan menghapus stigma buruk sebagai narapidana. “Bagaimana merehabilitasi psikososial, mengajarkan berbagai keterampilan yang bisa digunakan saat mereka bebas nanti,” ujar Febi, pendamping Sahabat Kapas saat menjelaskan tujuan aksinya.

Sahabat Kapas adalah organisasi non-pemerintah dan non-profit. Organisasi yang bertempat di Karanganyar, Jawa Tengah ini berfokus pada anak-anak dalam kondisi khusus dan rentan (AKKR). AKKR khususnya pada penghuni Rumah Tahanan Kelas I Surakarta. Organisasi ini bertujuan agar anak-anak tahanan mendapat pendampingan secara manusiawi.

Sahabat Kapas mulai melakukan aksi nyata dalam kegiatan sosial sejak 2009. Organisasi tersebut melakukan pendampingan rutin 1-2 minggu sekali. Kegiatan tersebut demi memperjuangkan hak-hak anak dalam penjara. “Respons petugas lapas baik. Bahkan ada kerja sama berkelanjutan dan MoU,” lanjut aktivis itu.

Pemutaran film ini ternyata mendapat tanggapan banyak pihak. “Ada poin penting dalam film. Sahabat Kapas memberi kesempatan pada anak-anak lapas (lembaga permasyarakatan-red) untuk berkembang. Saya senang sekali,” tutur Rudi Corens, inisiator Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga.

Banyak orang tergugah hatinya, sehingga menyumbangkan buku bagi anak-anak lapas. Sumbangan tersebut membuat mereka senang membaca buku di perpustakaan. Wawasan mereka lebih luas dibandingkan rumah tahanan (rutan) yang minim fasilitas. Hal itu merupakan satu dari berbagai dampak positif yang dirasakan langsung oleh para penghuni lapas.

Selain pemutaran film karya Sahabat Kapas, organisasi lain turut menampilkan karyanya, yakni ‘Bongseng’ film lain ciptaan Sahabat Andik. Hampir sama dengan Sahabat Kapas, film gubahannya juga berkisah mengenai kehidupan para penghuni lapas.

Jagongan Media Rakyat adalah kegiatan dua tahunan yang diselenggarakan Combine Resource Institution (CRI). Tujuan penyelenggaraannya adalah menyediakan wadah dan mempertemukan banyak komunitas, lembaga, dan individu. Mereka merupakan pihak yang peduli dan terjun langsung menghadapi persoalan masyarakat. JMR 2016 mengusung tema ‘Menganyam Inisiatif Komunitas’ dan selalu menjunjung keberpihakannya pada masyarakat.

“Acaranya keren, karena bisa jadi wadah untuk mempertemukan banyak komunitas. Nggak cuma anak, media, dan lingkungan. Banyak hal juga bisa didiskusikan dan dibagi,” ujar para pegiat Sahabat Kapas bersemangat.

Penulis: Yosepha Debrina

Editor: Rosa Vania Setowati

Ragam Cara Komunitas dalam Pelestarian Pusaka

Jpeg
Imam Zakaria saat menjadi pembicara dalam diskusi “Pengenalan Pusaka untuk Pelestarian Masa Depan” saat gelaran Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 di Jogja National Museum (23/4). Dalam diskusi tersebut, Imam menceritakan awal mula dia menginisiasi Kamisketsa.

Kini banyak individu dan komunitas yang memiliki kepedulian khusus dalam pelestarian pusaka (heritage). Kepedulian tersebut bisa diwujudkan dengan bermacam-macam cara. Hal ini menjadi pembahasan menarik dalam diskusi ‘Pengenalan Pusaka untuk Pelestarian Masa Depan’ yang dikelola Indonesian Heritage Inventory di Jogja National Museum (23/4) pada gelaran Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016.

Imam Zakaria dari Kamisketsa, misalnya. Ia menggunakan media gambar untuk berpartisipasi dalam pelestarian pusaka. Tema kuliner, khususnya di Kotagede menjadi perhatiannya, dengan alasan tema tersebut paling dekat dengan dirinya.

Pria yang juga tergabung dalam Jelajah Pusaka Kotagede ini mengatakan, “Banyak makanan enak (di Kotagede-red) yang tidak terekspos media.” Lewat Kamisketsa, setiap Kamis Imam mengunggah sketsanya tentang kuliner Kotagede di media sosial.

Lain Kamisketsa lain pula dengan Wayang Benges. Komunitas asal Yogyakarta ini aktif mengadakan pelatihan membuat wayang suket kepada masyarakat. Wayang Benges juga beberapa kali melakukan pementasan wayang suket yang diproduksi sendiri.

Novia Kristiana dari Wayang Benges menjelaskan, komunitas ini berupaya memperkenalkan kembali warisan wayang suket ke masyarakat. “Kita punya warisan yang sederhana, mudah dibuat, dan murah,” ujar Novia.

Di Jakarta, ada Jakarta Good Guide yang menggunakan pendekatan pariwisata dalam memperkenalkan peninggalan sejarah di Jakarta. Menariknya, komunitas pemandu wisata ini mengajak wisatawan mengenal tempat-tempat bersejarah di Jakarta dengan berjalan kaki, yakni yang dinamai Jakarta Walking Tour.

Farid Mardhianto mewakili Jakarta Good Guide menjelaskan, sejauh ini ada enam opsi rute yang dapat dipilih oleh wisatawan, yaitu: China Town, City Center, Old Town, Menteng, Cikini dan Pasar Baru.

Selain dengan memperkenalkan warisan, beberapa komunitas juga mewujudkan kepeduliannya dengan terjun langsung mengobservasi dan merawat pusaka di Indonesia. Salah satunya adalah Komunitas Roemah Toea Yogyakarta yang fokus pada peninggalan-peninggalan kolonial Belanda.

Komunitas ini berangkat dari rasa cinta anggotanya terhadap kereta api dan sejarahnya. Mereka melacak stasiun-stasiun kereta api yang sarat dengan nilai sejarah. Hari Kurniawan dari Roemah Toea mengatakan, aktivitas komunitas ini akhirnya berkembang menjadi pendokumentasian bangunan tua bersejarah.

Salah satu bangunan yang mendapat perhatian khusus dari Roemah Toea adalah Stasiun Maguwo Lama. Stasiun ini adalah satu-satunya stasiun kayu yang ada di Yogyakarta, sekaligus satu dari lima stasiun kayu di Jawa yang masih tersisa. Oleh PT. Kereta Api Indonesia Daop 6 Yogyakarta, Hari dan teman-temannya dipercaya untuk merawat dan mengelola stasiun tersebut. “Stasiun Maguwo Lama rutin kami bersihkan setiap bulan,” ujar Hari.

Diskusi “Pengenalan Pusaka untuk Pelestarian Masa Depan” merupakan salah satu dari sekian agenda di hari ketiga JMR 2016. Perhelatan yang diinisiasi oleh Combine Resource Institution (CRI) pada 21-24 April 2016.

Penulis: Ilham Bagus Prastiko

Editor: Rosa Vania Setowati

Teknologi Informasi dalam Membangun Desa

Ironi, ketika semua sepakat bahwa teknologi informasi memberikan pengaruh yang begitu besar kepada masyarakat. Hal itulah yang disampaikan oleh pembicara, Indriyatno Banyumurti dalam Jagongan Media Rakyat (JMR) Diskusi dan pemutaran film ‘Asadessa’. Bertempat di Jogja National Museum (JNM), (22/4), diskusi ini menghadirkan Bahrun Wardoyo  selaku Kepala Desa Dlingo, Indriyatno Banyumurti dari RTIK, M. Amrun  dari CRI, dan dimoderatori oleh Matahari Timoer  dari ICT Watch.

Film berdurasi 54 menit ini menceritakan pengalaman desa dalam memanfaatkan teknologi.“Inisiatif pembuatan film ini berawal dari teman-teman aktivis di desa yang ingin membangun desanya menggunakan teknologi informasi,” ungkap Indrayatno.

Desa saat ini dijadikan subjek yang memanfaatkan teknologi informasi, bukan hanya sebagai objek yang seringkali menjadi sorotan teknologi informasi. “Sayang jika semangat teman-teman aktivis tersebut hanya keluar dari mulut ke mulut dan tidak didokumentasikan dengan pembuatan film menggunakan teknologi informasi,” tambah Indrayatno.

Di Indonesia saat ini, yang namanya dampak digital (digital impact) masih saja ada. Seperti dipaparkan Indra, film ini tidak hanya sebatas dokumentasi bahwa teman-teman di desa memiliki potensi alam, wisata, dan sebagainya,  tetapi juga sebagai sebuah potret bagi desa itu sendiri. Selain itu, juga bagaimana teman-teman di desa memanfaatkan teknologi informasi untuk menjual produk mereka kepada masyarakat luar melalui media online.

Amrun memaparkan bahwa masyarakat desa memiliki kemauan yang tinggi dalam pemanfaatan teknologi informasi, tetapi hanya beberapa yang mau memanfaatkan. “Terkadang juga pemanfaatan tersebut digunakan oleh sekelompok orang untuk kepentingan tertentu,” paparnya.

Hal berbeda dijelaskan oleh Bahrun, masyarakat bangga terhadap desanya. “Awal mereka (perangkat desa) diberikan laptop dan ketika ada kumpul bersama warga, mereka dengan bangga membawa laptop menggunakan tasnya, tetapi bingung menggunakannya. Sekarang mereka sudah bisa dan tahu cara mengoperasikannya,” jelas Bahrun.

Bahrun menambahkan, internet mampu mengubah Desa Dlingo dapat memanfaatkan potensi yang ada di desa mereka dengan menggunakan teknologi informasi. Target beberapa tahun ke depan, nantinya relawan di desa dengan sistem informasi mata pencaharian masyarakat menjadi lebih leluasa. Desa pun bisa memberdayakan para pemuda di desa.

“Anak muda diharapkan mampu membantu persoalan percepatan pembangunan desa. Desa yang tertinggal bisa mengejar percepatan pembangunan yang tinggi dengan teknologi informasi,” imbuh Bahrum.

Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 adalah gelaran yang diinisiasi oleh Combine Resource Institution. Kali ini, JMR 2016 bertempat di Jogja National Museum pada 21-24 April 2016. Acara yang digelar setiap dua tahun sekali ini sudah menapaki gelaran keempatnya sejak tahun 2010. Lebih dari 38 diskusi dari berbagai lembaga, komunitas, dan pemerintah desa digelar pada hajatan ini. Mengusung tema “Menganyam Inisiatif Komunitas”,  JMR 2016 menjadi ruang bertemunya ratusan komunitas dan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.

Reporter : Tri Umi Asni

Editor: Rosa Vania Setowati